garansi hidup

Juni 12, 2008 by yepeyepe

SATU orang dekat datang ke saya dengan wajah lusuh. Tampang seperti itu sudah saya pahami benar. Saya tahu, dia datang tapi dia akan diam. Diam yam yam..tanpa sepotong kata terucap. Pun saya tak akan mendapat jawabnya andai pertanyaan terlontar. Bingung? Sama.

Saya hanya ndak mengerti kenapa dia kok senang sekali memasang tampang manisnya menjadi berlipat-lipat begitu. Padahal, kalau dia tak begitu..sungguh dia manis. Karenanya, setiap kali dia tersenyum yang sungguh senyum (bukan karena terpaksa) saya selalu melihat matahari ada di matanya.

Setelah memancing-macing yang memakan waktu lama,  saya dapat gambarannya. Ah, si manis ini memang punya masalah. Tapi saya pikir masalahnya bukan seperti perkiraannya. Masalahnya bukan karena dia sednag bermasalah dengan satu hal tetapi maslaahnya terletak dari cara dia berpikir, cara dia memandang akan berbagai hal.

Buat saya, khawatir itu wajar. Karenanya kita akan bersiap diri untuk menghindari apa yang kita khawatirkan. Tapi takut? Dalam pandangan saya, takut itu justru kita yang buat. takut lebih pada rasa sednagkan khawatir cenderung pada pikir. Karenanya, kekhawatiran akan dijawab dengan tindakan logis menghindari hal buruk. Tapi takut biasanya terjawab dengan ketakutan-ketakutan lain yang super heboh. Ini kata saya lho, ini pandangan saya.

Ngapain takut, lha wong urip wis ono sing nggransi je hehe.. Lalu buat yang ndak percaya hidup sudah ada yang mengeransi maka tentu dia akan membuat garansi bagi dirinya sendiri. Jadi teteup..ndak perlu takut hidup!

 

memerdeka

Mei 2, 2008 by yepeyepe

satu temanku pergi

aku tak menangisi

bukan karena ia tak istimewa lagi

lebih karena ia memilih membebaskan diri

 

yang penting asyik..

April 25, 2008 by yepeyepe

SUATU malam sekitar Pk. 20:00 seusai membuat beberapa masakan untuk pelanggan, saya menelepon  Sambal Pedas, teman seprofesi dari warung lain. Saya sedang aras-arasen kerja lantaran berpikir apa yang kami sajikan di warung ndak baik untuk pelanggan. Pembeli hanya mendapatkan kenyang tapi menu yang kami sajikan ndak sehat.

Sambal Pedas, yang menerima telepon sambil browsing internet, menceritakan apa yang dilihatnya di monitor. Katanya ada pianis beraksi mengenakan pakaian anti api yang mirip baju astronot. Api membakar dari arah depan pianonya. Sang pianis baru berhenti menekan tuts setelah piano itu ambruk terbakar.
Lain hari pada jam yang hampir sama kami bicara-bicara lagi. Sambal Pedas, yang lagi-lagi menerima telepon sambil browsing, menemukan gambar seorang perenang memecahkan rekor karena dalam usia tidak muda masih mengikuti kejuaraan.
Saat itu, kami ndak ngerti..untuk apa pianis dan perenang melakukan semua itu. Apa gunanya bagi orang lain karena apa yang mereka lakukan sama sekali ndak membantu orang kelaparan, sakit atau korban bencana. Apa bedanya dengan yang saya lakukan?
Hingga beberapa malam berikutnya, si Sambal Pedas bilang begini dari ujung teleponnya, “Yep, ndak penting ada gunanya atau tidak bagi orang lain tapi mereka melakukannya dengan enjoy. Kebetulan kita baru merasa enjoy kalau hal yang kita lakukan ada gunanya buat orang lain.”

yang pertama

April 22, 2008 by yepeyepe

BANGUN tidur pagi. Sesaat setelah mata terbuka, apa yang kamu pikirkan?

Kalau saya, “ini hari apa ya? 

Seingat saya, ingatan pertama saat bangun tidur itu sudah terbiasa sejak semasih sekolah dulu. Saya maklum begitu karena jaman sekolah kan hari menentukan tugas dan buku yang harus dibawa. Lha sekarang kok msih gitu ya? Padahal pekerjaan saya kan ndak ada kaitannya sama hari.

Apa ini tanda saya jalan di tempat?   

Kalau kamu, apa yang pertama kamu ingat?

 

Kartini bercelana jins

April 21, 2008 by yepeyepe

KARTINI. Menyebut namanya saya jadi ingat saat pertama kali ‘berkenalan’ dengan wanita anggun berpikiran jauh melampaui jamannya itu. Saat itu saya baru masuk kelas 1 smp. Tentu, tentu, saya sebelumnya sudah mengetahuinya dengan menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman yang menyanjungnya itu.
Tapi mengenalnya memang baru saat masuk smp melalui ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang diberikan tante tetangga sebelah kiri rumah. Buku tebal itu membuatku jatuh cinta. Cara Kartini bertutur mengungkapkan pikirannya memikatku. Jadilah aku mengenal Tuan dan Nyonya Abendanon, juga Stella yang menjadi sahabatnya. Kartini masuk dalam ingatanku sebagai sosok perempuan halus seperti pada masanya yang raganya diam dalam tembok Jawa namun pikiran-pikirannya meletup-letup melewati berbagai tembok itu.
Mengingat Kartini, juga membuatku mengingat Marsinah, pejuang kaum buruh dengan keberanian mencengangkan. Entah, terbuat dari apa nyalinya hingga ia akhirnya harus dijemput maut dengan cara yang amat tragis. Marsinah yang pemberani, yang yakin dengan apa yang dipercayanya sebagai kebenaran adalah perempuan dengan semangat Kartini.
Lalu, salahkah saya karena menangkap kesan peringatan ulang tahun Kartini hanya bersifat material? Mulai dari anak-anak TK sampe karyawati bank dan pembaca acara di televisi memperingatinya dengan berkebaya dan bersanggul. Saat kecil dulu, saya ikut-ikutan berkebaya dan sanggulan begitu. Lha, emangnya ibu kita itu model untuk pakaian dan sanggul?
Kupikir, Kartini ndak mau dikenang seperti itu. Dia mau perempuan-perempuan Indonesia mewarisi keberaniannya untuk bebas berpikir. Untuk menjadi dirinya sendiri yang adalah juga perempuan. Untuk ndak takut bermimpi. Untuk mewujudkan mimpinya.
Lepas dari itu, peringatan yang cenderung material dengan konde dan kebayanya (lalu bocah-bocah lelaki diminta berpakaian tradisoinal) ndak memberi hasil apa-apa selain orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra. Guru, terutama perempuan, akan lebih efektif menyampaikan pesan Kartini dengan mencontohkan dirinya sendiri yang berdiri di depan kelas untuk mendidik. Sambil menyampaikan hal itu bisa diceritakan dengan bagaimana Kartini harus mendobrak tembok yang mengukungnya untuk bisa mengajar dan terpaksa menelan mimpinya untuk bisa sekolah lebih tinggi.
Atau bisa juga mengundang tamu dengan profesi tertentu (ibu salah satu murid misalnya) untuk bercerita bagaimana ia sewaktu kecil bermimpi lalu berupaya mewujudkan mimpinya hingga menjadi seseorang saat ini. Kupikir cara itu lebih murah dan membuat anak-anak itu lebih mengenal Kartini dengan cita-citanya karena contohnya ada di depan mata.
Kartini. Kalau saja ia di usia 21 hidup di jaman ini, saya yakin ia tak berkonde dan berkebaya. Bisa jadi ia bercelana jins dan bergaya lebih sporty daripada bertank top dengan celana yang memperlihatkan pusar dan belahan atas bokongnya.

Teori tanpa praktek

April 16, 2008 by yepeyepe

WARUNG (ralat: bukan pabrik) tempat saya bekerja belum lama ini menyuruh saya belajar berbagai resep baru. Tentu saya senang karena bakal ada menu baru yang bisa saya persembahkan bagi pelanggan. Maka, dua kali dalam seminggu dalam delapan kali pertemuan saya belajar berbagai resep. Ah, sebenarnya apa yang diajarkan bukan resep yang sama sekali baru buat saya secara saya sudah pernah membaca-baca resep itu di buku resep yang saya beli dari toko buku di sebelah warung. Namun, kali ini bos warung yang menunjuk saya untuk belajar.  Maka, terpikirkal aneka macam menu baru yang bakal kami sajikan untuk pelanggan. Terbayang bagaimana mereka mencecap nikmatnya masakan yang bakal saya sajikan.

Seminggu setelah sekolah itu, semangat mencoba resep baru pun menggunung. Maka, satu resep dengan bahan dasar yang biasa kami gunakan saya siap untuk mengolah dengan bumbu baru. Kisah wanita muda yang tewas saat menggugurkan janin 2,5 bulannya pun tersaji dengan bumbu penuturan Kahlil Gibran soal anak. Atau bumbu dari Toto Sudarto Bachtiar yang mengawali tulisan panjang seringnya perempuan pelapor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencabut laporan atas perbuatan pelaku yang adalah juga suaminya.

Hasilnya? Belum juga hidangan itu sampai ke piring pelanggan, bos warung sudah membuang resep tambahan itu. Whaaaa..

Saya malas bertanya alasannya tak menyajikan menu buatan saya itu. Bos selalu bilang pelanggan warung kami yang ekonominya pas-pasan pasti ndak suka masakan aneh. “Tempe ya tempe, jangan dirambah dengan bumbu a la spagheti dong.”

Padahal, pelanggan warung pun bosan makan menu tempe yang hanya digoreng, digoreng tepung, diorak-arik atau dicampur dengan lodeh. Atau jangan-jangan sang bos sendiri yang belum terbiasa mencicipi makanan baru lalu berpikir pelanggan juga ndak suka?

Saya mencoba berpikir positif: baru dua kali ditolak..belum sejuta kali!

Tapi, dasar saya, pikiran negatif juga muncul: lalu ngapain bayar mahal-mahal nyekolahin anak buah kalau menu yang disajikan tetap itu-itu sajaaaa??

 

ngobrol

April 14, 2008 by yepeyepe

saya: haloo..kayak yang melamun sih?

teman: saya mencoba tetap disini. tapi jiwa yang dicari belum ketemu

saya: apa dong yang bisa saya bantu?

teman: hah..? beri saya indra lagi

saya: wahh..kalau itu sih buka saja semua sel yang ada di dalam dirimu. di badanmu, di hatimu, di pikiranmu.

teman: (geleng-geleng. menolak atau menganggap salah saran saya ya?)

 

catatan:

teman saya adalah seorang pencari

saya? orang bodoh yang banyak kepingin tahu

sayang anak?

April 11, 2008 by yepeyepe

TEMAN sepabrik abrik saya, lajang 36 tahun, jam duabelas malam teng menelepon. Suaranya, seperti biasa, tenang. Tapi saya bisa menangkap nada marahnya.
Teman saya bertemu dengan temannya dalam sebuah perjumpaan yang tak disengaja. Lama tak bertemu sementara waktu menunjukkan jam makan siang, keduanya sepakat mencari tempat enak untuk makan sambil ngobrol.
Entah bagaimana awalnya, pembicaraanpun sampai pada masalah yang membuat teman saya menelepon di jam tak wajar itu. Katanya, teman dia yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan itu menerima banyak titipan nomor dari rekan dan kerabatnya. Nomor itu adalah nomor tes masuk sekolah untuk tahun ajaran baru. Kata temannya teman saya itu, kebetulan anak-anak itu pintar hanya orangtuanya yang tak pe-de hingga perlu memastikan dengan menitipkan nomor itu. Baca entri selengkapnya »

belajar dari anak-anak

Maret 21, 2008 by yepeyepe

Saya akhirnya datang juga ke pertemuan keluarga buruh pabrik. Tanpa perlu berdusta tapi juga tak perlu mengikuti arus. Saya datang sepenuh raga. Jiwa yang sempat tertinggal akhirnya hadir setelah membeli selembar karcis  Rp 10.000 yang bisa kudapat gratis seperti mereka.

Sayang saya datang sangat terlambat. Saya tak bisa ‘menikmati’ tawa mereka yang berpesta seperti saran seorang teman. Tapi saya bisa melihat bagaimana senyum mengembang di wajah bocah-bocah itu kala berkecipak dengan air. Senyum kebagahagiaan. Ah, malu saya melihat kepolosan mereka.

Malu karena saya sudah menyamaratakan semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang yang tak pantas bepesta. Anak-anak..apa yang mereka tahu tentan cara mendapatkan uang untuk membeli secontong es krim? Tak ada. Mereka hanya tau es krim itu manis dan dingin. Enak.

Halo anak-anak teman sepabrik, maafkan saya ya.

 

yang tak pernah pergi

Maret 14, 2008 by yepeyepe
APA yang harus dilakukan saat pintu rumahmu diketuk dari luar? Membuka pintunya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika sosok yang berada di balik pintu itu ternyata kekasih sejatimu? Dia datang tanpa membawa oleh-oleh bahkan setangkai bunga yang bisa dipetik di pinggir jalan sekalipun.
Aha tentu, tentu dia tak perlu membawa apapun. Karena dia cukup membawa jiwanya seutuhnya. Jiwa yang berpuluh bahkan mungkin berjuta waktu silam yang menerbangkanmu, membawamu mencecap manisnya kebenaran, membelaimu sedemikian rupa hingga meski sedikit, sedikit saja, kakimu tak lagi memijak bumi.
Beberapa hari lalu, kekasih sejati yang kebetulan juga cinta pertamaku (duh..) berkunjung. Aku tak ingat persis kapan ia mengetuk pintu lalu menyelusup masuk. Tapi pasti, aku telah membuka pintunya. Bukan cuma itu, aku ingat sekali ketika membiarkannya masuk lalu membebaskannya memilih di ruang mana ia mau duduk. Bahkan,  diam-diam, aku sedikit berbedak lalu mati-matian memilih hidangan apa yang akan kusajikan. Padahal, sang kekasih hati itu belum memintanya.
Sungguh, kunjungannya membahagiakanku.
Seperti itulah kehadiran satu teman baruku. Bukan, tentu belahan jiwa itu bukan dia jika yang dimaksud sosok ragawi.  Tetapi lebih pada pikiran-pikiran yang dituangkannya dalam deret panjang kata-kata pada beberapa hari terakhir ini. Deretan kata yang sering tajam menukik tak memberi ruang untuk sebuah maaf. Tentu saja aku menjadi betah berlama-lama menghabiskan malam untuk sekadar bertanya, bercerita, mendengar segala hal darinya. Idealisme, dalam segala hal, memang tak memungkinkan memberi kata maaf untuk sedikit saja kesalahan. Apapun alasannya. Termasuk alasan hati atau cinta atau semacamnya yang kadang hanya pemanjaan indra  semata.
Perjumpaan itu begitu mengasyikkannya. Aku menutup telinga agar tak ada suara lain yang menyusup ke gendang telingaku. Aku hanya mau mendengar apa-apa yang dari dirinya. Sekalipun kata yang keluar tak semuanya membuatku mengangguk menyetujui.
Duhai..betapa manis semuanya. Aku terlena dalam buai kebenaran. Aku pun tergoda untuk kembali menapaki jalan nan memikat itu. Hingga dia katakan, “ayo..cari airmu.” Ahh..aku tau disana tempatku. Udaraku. Aiirku. Tanahku.
Tempat itu adalah tempat segala kebenaran. Sesungguhnyalah tempat indah yang terang benderang dengan angin yang berhembus begitu sejuk karena rimbunnya dedaunan. Tempat dengan kasih sayang sebagai mata uangnya. Namun juga tempat yang sunyi. Jalan-jalan menuju tempat itu begitu sepinya karena hanya beberapa orang saja yang mau melewatinya. Itupun tak semua sampai ke tujuan.
Mereka yang tak sampai ke tempat itu atau meninggalkan jalan yang sudah ditempuhnya menuju tempat itu sebenarnya hanya orang-orang yang menggunakan kedua tangannya untuk menutup rapat telinga jiwa dari bisikan sanubarinya. Lalu kepalanya dipakai buat berjalan nelebihi kemampuan langkah kakinya. Semua itu semata untuk mencari jalan pembenaran atas penyumbatan telinganya tadi.
Aksi sirkus yang memuakkan itu banyak terjadi di tempat ini. Di tempat aku berpijak kini. Aku berada di antara pesirkus-pesirkus yang umumnya amatir hingga mudah kutebak permainannya bahkan kejatuhannya. Belajar langsung dari apa yang kutatap dan dengar tentu mudah buatku beraksi lebih baik dari mereka.
Tempat hiruk pikuk ini kuakui sering membuatku lelah. Juga marah alang kepalang. Kadang semakin menyakitkan ketika aku merasa benar-benar sendiri tak mampu menghentikan sejenak saja ajang kegilaan yang memperdengarkan semua jenis musik keras-keras secara bersamaan, menyajikan aneka hidangan dalam satu piring yang sama sekaligus mempertontonkan sirkus yang banyak melibatkan dirinya sendiri sebagai hewan akrobat.
Capek? Ya, aku capek melihat mereka. Sesekali bahkan begitu kecewanya hingga membuatku sedih. Karenanya, kekasih sejati, kunjunganmu begitu melenakan. Aku tergoda untuk kembali bersamamu seperti berpuluh, beratus bahkan berjuta waktu silam ketika jemari kita saling menggenggam.
Aku menjadi gundah. Gelisah berkepanjangan. Dalam pejam mataku hanya bayangan mencari airku yang setepat-tepatnya. Aku toh manusia yang selalu bisa memilih. Separo kakiku ingin kembali melangkah bersamamu menapaki jalan sepi menuju tempat indah yang menentramkan.
Namun, di satu sisi aku tau aku tak lagi bisa terbang. Aku telah membuat satu pilihan sadar dengan panglima terdepan sebuah cinta tanpa syarat yang kuterima sejak lahir. Kini, segala yang kujalani adalah konsekuensi logis atas pilihan itu.
Aku tak bisa lagi tidak menapakkan kedua telapak kakiku rata dengan tanah. Ya, ya, ya, sekalipun bukan tempat terindah bersamamu dulu.
Tapi hei, aku tau siapa diriku. Seperti sebuah iklan minuman, kutau yang kumau.
Yang kumau adalah kekasihku tetap bersamaku. Menemani setiap kali melangkah dan menarik nafas. Sekalipun aku ada di tempat yang hiruk pikuk dengan kebisingan luar biasa. Dalam arena sirkus tanpa batas yang mempertontonkan segala ketidakbenaran, ketidakharusan, keserakahan, kemunafikan dan kesombongan..aku tau aku tak sendiri. Ada kekasih sejati yang menemani sekalipun tak bisa kuraba ujud, kucecap rasa, kuhirup wangi dan kupandangi warnanya. Denganmu aku tak akan terjerembab.
Ya, kunjungan sang teman meyakinkanku. Bahwa kekasih sejati tak akan pernah pergi. Ia bertahta dalam sanubari. Jikapun terlupa, ia akan berbisik. Selalu. Selalu. Persinggahan temanku itu bagai memberiku seteguk air. Layaknya orang yang dipilihNya untuk menghindari keringnya jiwa.
Setelah hari-hari berbagi itu, saatnya bagi dia melanjutkan perjalanan. Ia pengembara yang tak akan meninggalkan jejak.
Maka, pergilah. Seperti keinginannya, tak akan ada air mata. Semuanya telah cukup buaku, juga buat dia. Karena, seperti cita-citanya, dia sudah memberi guna bagi orang lain: mengingatkan kekasih yang akan selalu bersemayam sekalipun tak beraga.