DUA hari mendampingi teman keliling Cipayung memberi rasa baru. Bergaya guide, aku mengantar berputar mengelilingi wilayah pojokan Jakarta di sebelah timur ini. Temanku terpesona. Iya, sapa yang enggak. Lha wong disana-sini yang ada cuma ijo dan ijo. Bahkan masih ada persawahan. Empang juga.
Sungai yang ada di perbatasan Bekasi pun seperti kali di kampungku yang di kanan kirinya ditumbuhi rumpun bambu dengan daun sampai miring ke kali. Angin jadi terasa murah berhembus. Bukan cuma sepoi-sepoi. Buktinya, sore sehabis keliling temanku di-KO masuk angin he..
Kawasan Cipayung ini cukup unik karena hanya punya satu pasar. Pasar Munjul yang ada di dekat jembatan tol yang membatasi Ciracas dengan Cipayung itu pun umurnya belum sampai dua tahun. Lain lagi soal rumah. Di sini masih ada rumah warga yang kayak jaman filmnya Benyamin. Itu tuh, rumah yang dari kayu. Ditambah lagi sejumlah rumah dilengkapi dengan kebun singkong. Kebayang deh makan daun singkong rebus pake sambal trasi. Asyik betul!
Sebagai warga yang belum lama menetap di Cipayung, belakangan kulihat penduduk mulai menemukan bentuk ‘dagangan’ baru. Mereka berdagang tanaman di rumah-rumah. Kebanyakan tanaman hias. Jadilah Cipayung tak sekedar ijo tapi tambah warna merah, kuning, putih dari bunga yang dijual. Indah. Kebayanyakan tanaman hias yang dipajang jenis Aglaonema yang urat daun utamanya merah, Euphorbia dan palem. Aku belum tau apakah mereka sudah mendapat binaan dari Pemda atau belum. Tapi kuperkirakan belum karena yang ditawarkan terlihat sangat apa adanya. (Eh, ini pe-er buatku. Kapan-kapan akan kutanya.)
Tapi aku jadi bermimpi mereka bisa menjadikan kawasan ini seperti daerah Kebon Jeruk, Jakbar, yang petani tanaman hiasnya berusaha di rumah-rumah. Asyik kan. Lingkungan terjaga tanpa pousi (di Cipayung ndak ada pabrik lho) dan mata terpuaskan. Uhuyy..
Keliling Cipayung dua hari..agaknya, aku jatuh cinta!