Arsip untuk Agustus, 2007

Teman saya patah hati

Agustus 28, 2007

TEMAN saya patah hati. Saya bisa mendengar bagaimana getar pilunya sekalipun hanya lewat telepon yang saya terima dalam mikrolet M06 Gandaria-Kp Melayu berpenumpang lima orang di siang terik Sabtu kemarin. Teman saya bukan seorang yang cengeng, saya tau benar itu. Tapi yang namanya terluka tetap saja menimbulkan aduh.

Sedikit banyak, saya tahu perjalanan kasih mereka. Seorang gadis pandai yang dianugrahi wajah cantik hingga membuat siapapun yang berpapasan akan menoleh kembali untuk melihatnya, well organize, dari keluarga sangat amat berkecukupan secara finansial dan ingin hidup mapan. Namun dalam berasmara dengan sang pemuda yang juga berasal dari keluarga berpunya, cukup cerdas untuk berani hidup seperti yang ada dalam pikirannya shg terlihat sederhana ini, sang gadis agaknya kurang pe-de dengan apa yang dirasa ketika berkomitmen menjadi kekasihnya.

Banyaknya tanya seiring perjalanan kasih mereka berjawab bukan oleh rasa itu sendiri melainkan oleh hal-hal yang diterjemahkannya sebagai pembenaran atas berlanjut tidaknya pertalian kasih. Atas upayanya, saya melihatnya sebagai kekhawatiran masa depan. Padahal, hei..hei.., ini hidup yang garansinya ya ketidakpastian itu sendiri kan? Tapi ya sudah. Bisa jadi ia cuma sedang berhitung untuk meminimalisir kemungkinan2 terburuk yang bakal terjadi pada masa depan jika menjadi istri pemuda itu. Ya, ya, ndak ada salahnya memang. Buat saya, dari situ tergambar benar betapa rapinya dara ini mempersiapkan masa depannya termasuk masalah hati yang, dalam hal ini, biasanya mau menang sendiri. Lantas

samakah lagu hatinya dengan yang dinyanyikan sang pemuda? Mhh..meneketehe. Cuma dia yang tahu karena sang pemuda pun hanya bisa meraba bahwa kisah yang mereka rajut berat sebelah. Saya melihatnya sang dara jatuh cinta secara intelektual dengan pemuda itu. Tapi ini kan teropong saya saja. Bisa jadi benar tetapi besar kemungkinan salah.

Soal pemuda teman saya? Prens, saya tahu dia kecewa karena bulat hatinya tak mendapat imbangan sepadan. Patah yang dirasakan, saya pikir, lebih karena patahnya bulatan utuh itu. Patahnya sebuah rancangan indah tentang hari tua di sebuah kampung nan teduh. Bukan patahnya satu hubungan yang dia sadari memang tak pernah utuh. Perih yang membuatnya tak nyaman itu membuat saya kepingin mengelus-elus kepalanya menenangkan sekaligus memberi semangat. Saya juga katakan padanya supaya melihat mantannya yang mungkin sosok wanita bernilai 9 itu tak lebih sebagai orang2 yang ada di iklan2 di koran, majalah atau tipi. Sempurna hanya kelihatannya. Tapi bukan sempurna untuk menjadi orang yang kelak menjadi istrinya. Bisa jadi seseorang penghuni hati masa depannya kelak tak secantik, seanggun atau sepandai gadis itu tapi pasti dia bakal sempurna karena dilengkapi kasih yang menyeimbangkan bulat hatinya.

Prens, saya tahu bahwa teman saya tahu perih itu akan sembuh oleh waktu. Sepanjang proses itu, dia tahu kalau saya dan beberapa temannya akan berada bersamanya. Teman saya tahu, saya siap menjadi a shoulder to cry on kalau perih itu datang sebelum akhirnya minggat jauh2 dari hati teman saya.

Jadi, hei kamu teman saya, ndak usah menambah air garam di atas luka itu ya. Awas juga kamu membakar atau mendelete lagi tulisan2mu seperti yang kamu lakukan atas pemusnahan 400 halaman tulisanmu. Iya, awas! Karena itu karyamu. Kamu yang merangkai kata-kata lalu menyusunnya menjadi sebuah tulisan untuk sebuah buku. Bahwa gadis itu yang menjadi ispirasi ya biar saja, toh karya itu tetap hak paten olah otakmu. Cukup sekali itu saja berbuat bodoh ya. Masih mimpi mempersunting gadis itu? Ndak, ndak salah kok. Tapi saran saya, saat ini, akan lebih baik bagimu untuk membiarkan ruang yang ada di antara kalian. Kamu bisa menghidupkan waktu dengan kegiatan apa saja kecuali terus memikirkannya. Kalau dia memang sigaraning nyowo, rentang saat akan memberi jawab kok. Bagaimana, mau bangun pagi sambil teriak-teriak lagunya Cake? Yeah..yeahh u will survive..

Doa yang indah

Agustus 17, 2007

1.JPG     TUHAN Yesus, berkati Mama Yuli yang hari ini ulang tahun..” Begitu doa yang keluar dari mulut kecil Aditya pada malam pertengahan Juli lalu. Mendengar doa bocah empat tahun itu, ayahnya memberi tepuk tangan sambil memuji kepintarannya. Begitu pula dengan sang bunda yang tengah mengandung  adiknya Aditya. Sedang pendoa berambut kriwil itu langsung rebahan lalu berguling-guling seperti biasa sebelum tidur.

Menurut ayahnya Adit, tak ada yang mengajarinya berdoa seperti itu. Begitu juga kata bundanya. Tapi sungguh, doa Adit itu adalah hadiah terindah yang saya dapat. Begitu indahnya hingga saya ndak bisa berkata apapun. Air mata bahagia yang akhirnya bicara.

Kami memang berbeda ‘rumah’ keimanan. Tapi keluarga kecil sahabat terbaik itu adalah keluarga saya juga. Di atas perbedaan itu, semoga hanya ketulusan yang ada.

Terima kasih doanya ya Mas Adit sayang.