APA yang harus dilakukan saat pintu rumahmu diketuk dari luar? Membuka pintunya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika sosok yang berada di balik pintu itu ternyata kekasih sejatimu? Dia datang tanpa membawa oleh-oleh bahkan setangkai bunga yang bisa dipetik di pinggir jalan sekalipun.
Aha tentu, tentu dia tak perlu membawa apapun. Karena dia cukup membawa jiwanya seutuhnya. Jiwa yang berpuluh bahkan mungkin berjuta waktu silam yang menerbangkanmu, membawamu mencecap manisnya kebenaran, membelaimu sedemikian rupa hingga meski sedikit, sedikit saja, kakimu tak lagi memijak bumi.
Beberapa hari lalu, kekasih sejati yang kebetulan juga cinta pertamaku (duh..) berkunjung. Aku tak ingat persis kapan ia mengetuk pintu lalu menyelusup masuk. Tapi pasti, aku telah membuka pintunya. Bukan cuma itu, aku ingat sekali ketika membiarkannya masuk lalu membebaskannya memilih di ruang mana ia mau duduk. Bahkan, diam-diam, aku sedikit berbedak lalu mati-matian memilih hidangan apa yang akan kusajikan. Padahal, sang kekasih hati itu belum memintanya.
Sungguh, kunjungannya membahagiakanku.
Seperti itulah kehadiran satu teman baruku. Bukan, tentu belahan jiwa itu bukan dia jika yang dimaksud sosok ragawi. Tetapi lebih pada pikiran-pikiran yang dituangkannya dalam deret panjang kata-kata pada beberapa hari terakhir ini. Deretan kata yang sering tajam menukik tak memberi ruang untuk sebuah maaf. Tentu saja aku menjadi betah berlama-lama menghabiskan malam untuk sekadar bertanya, bercerita, mendengar segala hal darinya. Idealisme, dalam segala hal, memang tak memungkinkan memberi kata maaf untuk sedikit saja kesalahan. Apapun alasannya. Termasuk alasan hati atau cinta atau semacamnya yang kadang hanya pemanjaan indra semata.
Perjumpaan itu begitu mengasyikkannya. Aku menutup telinga agar tak ada suara lain yang menyusup ke gendang telingaku. Aku hanya mau mendengar apa-apa yang dari dirinya. Sekalipun kata yang keluar tak semuanya membuatku mengangguk menyetujui.
Duhai..betapa manis semuanya. Aku terlena dalam buai kebenaran. Aku pun tergoda untuk kembali menapaki jalan nan memikat itu. Hingga dia katakan, “ayo..cari airmu.” Ahh..aku tau disana tempatku. Udaraku. Aiirku. Tanahku.
Tempat itu adalah tempat segala kebenaran. Sesungguhnyalah tempat indah yang terang benderang dengan angin yang berhembus begitu sejuk karena rimbunnya dedaunan. Tempat dengan kasih sayang sebagai mata uangnya. Namun juga tempat yang sunyi. Jalan-jalan menuju tempat itu begitu sepinya karena hanya beberapa orang saja yang mau melewatinya. Itupun tak semua sampai ke tujuan.
Mereka yang tak sampai ke tempat itu atau meninggalkan jalan yang sudah ditempuhnya menuju tempat itu sebenarnya hanya orang-orang yang menggunakan kedua tangannya untuk menutup rapat telinga jiwa dari bisikan sanubarinya. Lalu kepalanya dipakai buat berjalan nelebihi kemampuan langkah kakinya. Semua itu semata untuk mencari jalan pembenaran atas penyumbatan telinganya tadi.
Aksi sirkus yang memuakkan itu banyak terjadi di tempat ini. Di tempat aku berpijak kini. Aku berada di antara pesirkus-pesirkus yang umumnya amatir hingga mudah kutebak permainannya bahkan kejatuhannya. Belajar langsung dari apa yang kutatap dan dengar tentu mudah buatku beraksi lebih baik dari mereka.
Tempat hiruk pikuk ini kuakui sering membuatku lelah. Juga marah alang kepalang. Kadang semakin menyakitkan ketika aku merasa benar-benar sendiri tak mampu menghentikan sejenak saja ajang kegilaan yang memperdengarkan semua jenis musik keras-keras secara bersamaan, menyajikan aneka hidangan dalam satu piring yang sama sekaligus mempertontonkan sirkus yang banyak melibatkan dirinya sendiri sebagai hewan akrobat.
Capek? Ya, aku capek melihat mereka. Sesekali bahkan begitu kecewanya hingga membuatku sedih. Karenanya, kekasih sejati, kunjunganmu begitu melenakan. Aku tergoda untuk kembali bersamamu seperti berpuluh, beratus bahkan berjuta waktu silam ketika jemari kita saling menggenggam.
Aku menjadi gundah. Gelisah berkepanjangan. Dalam pejam mataku hanya bayangan mencari airku yang setepat-tepatnya. Aku toh manusia yang selalu bisa memilih. Separo kakiku ingin kembali melangkah bersamamu menapaki jalan sepi menuju tempat indah yang menentramkan.
Namun, di satu sisi aku tau aku tak lagi bisa terbang. Aku telah membuat satu pilihan sadar dengan panglima terdepan sebuah cinta tanpa syarat yang kuterima sejak lahir. Kini, segala yang kujalani adalah konsekuensi logis atas pilihan itu.
Aku tak bisa lagi tidak menapakkan kedua telapak kakiku rata dengan tanah. Ya, ya, ya, sekalipun bukan tempat terindah bersamamu dulu.
Tapi hei, aku tau siapa diriku. Seperti sebuah iklan minuman, kutau yang kumau.
Yang kumau adalah kekasihku tetap bersamaku. Menemani setiap kali melangkah dan menarik nafas. Sekalipun aku ada di tempat yang hiruk pikuk dengan kebisingan luar biasa. Dalam arena sirkus tanpa batas yang mempertontonkan segala ketidakbenaran, ketidakharusan, keserakahan, kemunafikan dan kesombongan..aku tau aku tak sendiri. Ada kekasih sejati yang menemani sekalipun tak bisa kuraba ujud, kucecap rasa, kuhirup wangi dan kupandangi warnanya. Denganmu aku tak akan terjerembab.
Ya, kunjungan sang teman meyakinkanku. Bahwa kekasih sejati tak akan pernah pergi. Ia bertahta dalam sanubari. Jikapun terlupa, ia akan berbisik. Selalu. Selalu. Persinggahan temanku itu bagai memberiku seteguk air. Layaknya orang yang dipilihNya untuk menghindari keringnya jiwa.
Setelah hari-hari berbagi itu, saatnya bagi dia melanjutkan perjalanan. Ia pengembara yang tak akan meninggalkan jejak.
Maka, pergilah. Seperti keinginannya, tak akan ada air mata. Semuanya telah cukup buaku, juga buat dia. Karena, seperti cita-citanya, dia sudah memberi guna bagi orang lain: mengingatkan kekasih yang akan selalu bersemayam sekalipun tak beraga.