Saya akhirnya datang juga ke pertemuan keluarga buruh pabrik. Tanpa perlu berdusta tapi juga tak perlu mengikuti arus. Saya datang sepenuh raga. Jiwa yang sempat tertinggal akhirnya hadir setelah membeli selembar karcis Rp 10.000 yang bisa kudapat gratis seperti mereka.
Sayang saya datang sangat terlambat. Saya tak bisa ‘menikmati’ tawa mereka yang berpesta seperti saran seorang teman. Tapi saya bisa melihat bagaimana senyum mengembang di wajah bocah-bocah itu kala berkecipak dengan air. Senyum kebagahagiaan. Ah, malu saya melihat kepolosan mereka.
Malu karena saya sudah menyamaratakan semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang yang tak pantas bepesta. Anak-anak..apa yang mereka tahu tentan cara mendapatkan uang untuk membeli secontong es krim? Tak ada. Mereka hanya tau es krim itu manis dan dingin. Enak.
Halo anak-anak teman sepabrik, maafkan saya ya.
Maret 31, 2008 pukul 1:40 pm
anak-anak memang tulus ya.
salam kenal