Kartini bercelana jins

By yepe

KARTINI. Menyebut namanya saya jadi ingat saat pertama kali ‘berkenalan’ dengan wanita anggun berpikiran jauh melampaui jamannya itu. Saat itu saya baru masuk kelas 1 smp. Tentu, tentu, saya sebelumnya sudah mengetahuinya dengan menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman yang menyanjungnya itu.
Tapi mengenalnya memang baru saat masuk smp melalui ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang diberikan tante tetangga sebelah kiri rumah. Buku tebal itu membuatku jatuh cinta. Cara Kartini bertutur mengungkapkan pikirannya memikatku. Jadilah aku mengenal Tuan dan Nyonya Abendanon, juga Stella yang menjadi sahabatnya. Kartini masuk dalam ingatanku sebagai sosok perempuan halus seperti pada masanya yang raganya diam dalam tembok Jawa namun pikiran-pikirannya meletup-letup melewati berbagai tembok itu.
Mengingat Kartini, juga membuatku mengingat Marsinah, pejuang kaum buruh dengan keberanian mencengangkan. Entah, terbuat dari apa nyalinya hingga ia akhirnya harus dijemput maut dengan cara yang amat tragis. Marsinah yang pemberani, yang yakin dengan apa yang dipercayanya sebagai kebenaran adalah perempuan dengan semangat Kartini.
Lalu, salahkah saya karena menangkap kesan peringatan ulang tahun Kartini hanya bersifat material? Mulai dari anak-anak TK sampe karyawati bank dan pembaca acara di televisi memperingatinya dengan berkebaya dan bersanggul. Saat kecil dulu, saya ikut-ikutan berkebaya dan sanggulan begitu. Lha, emangnya ibu kita itu model untuk pakaian dan sanggul?
Kupikir, Kartini ndak mau dikenang seperti itu. Dia mau perempuan-perempuan Indonesia mewarisi keberaniannya untuk bebas berpikir. Untuk menjadi dirinya sendiri yang adalah juga perempuan. Untuk ndak takut bermimpi. Untuk mewujudkan mimpinya.
Lepas dari itu, peringatan yang cenderung material dengan konde dan kebayanya (lalu bocah-bocah lelaki diminta berpakaian tradisoinal) ndak memberi hasil apa-apa selain orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra. Guru, terutama perempuan, akan lebih efektif menyampaikan pesan Kartini dengan mencontohkan dirinya sendiri yang berdiri di depan kelas untuk mendidik. Sambil menyampaikan hal itu bisa diceritakan dengan bagaimana Kartini harus mendobrak tembok yang mengukungnya untuk bisa mengajar dan terpaksa menelan mimpinya untuk bisa sekolah lebih tinggi.
Atau bisa juga mengundang tamu dengan profesi tertentu (ibu salah satu murid misalnya) untuk bercerita bagaimana ia sewaktu kecil bermimpi lalu berupaya mewujudkan mimpinya hingga menjadi seseorang saat ini. Kupikir cara itu lebih murah dan membuat anak-anak itu lebih mengenal Kartini dengan cita-citanya karena contohnya ada di depan mata.
Kartini. Kalau saja ia di usia 21 hidup di jaman ini, saya yakin ia tak berkonde dan berkebaya. Bisa jadi ia bercelana jins dan bergaya lebih sporty daripada bertank top dengan celana yang memperlihatkan pusar dan belahan atas bokongnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan