yang penting asyik..

By yepe

SUATU malam sekitar Pk. 20:00 seusai membuat beberapa masakan untuk pelanggan, saya menelepon  Sambal Pedas, teman seprofesi dari warung lain. Saya sedang aras-arasen kerja lantaran berpikir apa yang kami sajikan di warung ndak baik untuk pelanggan. Pembeli hanya mendapatkan kenyang tapi menu yang kami sajikan ndak sehat.

Sambal Pedas, yang menerima telepon sambil browsing internet, menceritakan apa yang dilihatnya di monitor. Katanya ada pianis beraksi mengenakan pakaian anti api yang mirip baju astronot. Api membakar dari arah depan pianonya. Sang pianis baru berhenti menekan tuts setelah piano itu ambruk terbakar.
Lain hari pada jam yang hampir sama kami bicara-bicara lagi. Sambal Pedas, yang lagi-lagi menerima telepon sambil browsing, menemukan gambar seorang perenang memecahkan rekor karena dalam usia tidak muda masih mengikuti kejuaraan.
Saat itu, kami ndak ngerti..untuk apa pianis dan perenang melakukan semua itu. Apa gunanya bagi orang lain karena apa yang mereka lakukan sama sekali ndak membantu orang kelaparan, sakit atau korban bencana. Apa bedanya dengan yang saya lakukan?
Hingga beberapa malam berikutnya, si Sambal Pedas bilang begini dari ujung teleponnya, “Yep, ndak penting ada gunanya atau tidak bagi orang lain tapi mereka melakukannya dengan enjoy. Kebetulan kita baru merasa enjoy kalau hal yang kita lakukan ada gunanya buat orang lain.”
Yap. Itu dia. Saya sepakat. Apa yang dilakukan dan membuat enjoy sebenarnya dilakukan untuk kesenangan diri sendiri. Saya menikmati apa yang saya lakukan jika hal itu sesuai dengan yang saya sukai sehingga memberi kesenangan bagi diri saya sendiri.
Itu makanya saya akan all out. Seperti pekerjaan di warung ini. Saya habis-habisan meramu masakan yang saya pikir paling enak untuk saya sajikan pada pelanggan. Saya ingin mereka tak sekadar kenyang tetapi juga makanan itu membuat mereka sehat.  Apa yang saya lakukan ini sebenarnya untuk kesenangan  diri sendiri. Bukan untuk pelanggan. Kebetulan kesenangan bagi diri saya sendiri itu baru berlaku jika hal itu  berguna untuk orang. Kesengan bagi diri sendiri yang saya rasakan nilainya setara dengan kesnangan yang didapat sang pianis atau perenang tadi.
Rasa enjoy karena mendapat kesenangan untuk diri sendiri itu membawa orang-orang yang bekerja sesuai dengan keinginannya akan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Mereka melakukan pekerjaannya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Pikir, jiwa dan raga semua bekerja. Bayarannya tentu kesukacitaan yang nilainya seringkali lebih dari sekedar mendapatkan upah.
Ah, saya tiba-tiba ingat satu guru fisika di jaman sekolah dulu. Bu guru yang sebetulnya asyik itu (karena ndak kebakaran jenggot saat muridnya satu kelas bolos bersama) selalu tertidur di kelas usai menjelaskan sebuah pokok bahasan dan memberi sejumlah tugas. Jadilah kami sibuk dengan keasyikan khas remaja karena ndak bisa mengerjakan tugasnya. Lha, bagaimana mau mengerjakan, beliau itu menerangkan cepat-cepat hingga kami tak mengerti. Entah, dimana hati dan pikiran bu guru itu. Barangkali ia tak lagi suka menjadi guru tapi tetap harus bekerja karena butuh upah. Kasihan ya.
Saya ndak mau seperti bu guru itu. Tepatnya, ndak bisa karena yang begitu itu ndak asyik.. 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan