garansi hidup

By yepe

SATU orang dekat datang ke saya dengan wajah lusuh. Tampang seperti itu sudah saya pahami benar. Saya tahu, dia datang tapi dia akan diam. Diam yam yam..tanpa sepotong kata terucap. Pun saya tak akan mendapat jawabnya andai pertanyaan terlontar. Bingung? Sama.

Saya hanya ndak mengerti kenapa dia kok senang sekali memasang tampang manisnya menjadi berlipat-lipat begitu. Padahal, kalau dia tak begitu..sungguh dia manis. Karenanya, setiap kali dia tersenyum yang sungguh senyum (bukan karena terpaksa) saya selalu melihat matahari ada di matanya.

Setelah memancing-macing yang memakan waktu lama,  saya dapat gambarannya. Ah, si manis ini memang punya masalah. Tapi saya pikir masalahnya bukan seperti perkiraannya. Masalahnya bukan karena dia sednag bermasalah dengan satu hal tetapi maslaahnya terletak dari cara dia berpikir, cara dia memandang akan berbagai hal.

Buat saya, khawatir itu wajar. Karenanya kita akan bersiap diri untuk menghindari apa yang kita khawatirkan. Tapi takut? Dalam pandangan saya, takut itu justru kita yang buat. takut lebih pada rasa sednagkan khawatir cenderung pada pikir. Karenanya, kekhawatiran akan dijawab dengan tindakan logis menghindari hal buruk. Tapi takut biasanya terjawab dengan ketakutan-ketakutan lain yang super heboh. Ini kata saya lho, ini pandangan saya.

Ngapain takut, lha wong urip wis ono sing nggransi je hehe.. Lalu buat yang ndak percaya hidup sudah ada yang mengeransi maka tentu dia akan membuat garansi bagi dirinya sendiri. Jadi teteup..ndak perlu takut hidup!

 

Tinggalkan Balasan