Arsip untuk Agustus, 2008

siang di taman mini

Agustus 26, 2008

air di antara ‘pulau sumatera’ dengan tempat saya duduk menari. tiupan angin yang menggerakkannya membentuk garis-garis agak membulat, rapat bersusun dan terus bergerak mengikuti tiupan angin. rimbun daun pohon buah ceri menutupi batang besar kamboja yang menjorok di atas permukaan air. indah.
belum lagi air yang gemulai menari memantulkan warna hijau lembut. aha, agaknya hijau rerumputan memantul di permukaannya.
‘pulau sumatera’ tampak meranggas di beberapa tempat. barangkali pengaruh musim panas. namun keseluruhan tetap menghijau. tak terlihat daun layu tau terbakar. soka merah menyembul di antara daunnya yang rimbun. ada juga bunga-bunga kecil putih lalu oranye yang tak terlihat jelas jenisnya. saya harus memecah tarian air jika harus melihatnya. dan itu kedalamannya sekitar 1,5 meter. begitu informasi dari pak slamet, petugas kebersihan, yang sedang menyapu dedaunan ceri.
hmm..saya ada dimana ya? hehe.. pinggir danau buatan yang memetakan pulau-pulau indonesia di taman mini indonesia indah (tmiiI).
satu dua tahun lalu saya rajin menyambangi tmii pada minggu pagi untuk ikut senam aerobik bersama di monumen tugu api pancasila atau keliling jalan kaki sambil lari-lari kecil lalu setelahnya nyantai sekitar satu jam di pinggir danau ini atau seru-seruan mencari makanan murah meriah yang sengaja digelar di pelataran parkir depan hanya pada minggu pagi. keasyikan yang bisa menghilangkan kejenuhan.
saya suka tmii. ide soeharto dan istrinya yang paling saya suka. sayangnya perkembangannya kurang pesat. padahal, saya pikir, tempat ini bisa hidup lagi. misalnya dengan menghidupkan komunitas semisal yoga atau tai chi pada minggu pagi. tempatnya bisa di museum iptek yang agak kebelakang. disitu tenang. rumah-rumah adat juga bisa disewakan untuk pertemuan komunitas daerah asal bukan pada minggu. iya, soalnya kalau tamu mantennya mbludak kan mengganggu pengunjung ya. atau, tamunya dibatasi jumlahnya aja? memang sih sudah ada sasono langen budoyo trus padepokan pencak silat trus mesjid at tien yang suka dipakai hajatan (khususnya manten). tapi melihat rumah-rumah keren yang sering terlihat begitu-gitu aja kok ga seru ya.
satu lagi. mbok ya kendaraan2 bermesin itu (kecuali petugas, tentu) pada minggu pagi jam-nya berminggu ria ndak sliwar-sliwer. asap knalpotnya kan mengganggu banget buat yang lari pagi.
selain itu, saya berharap tmii bisa jadi pusatnya kesenian tradisional. anak-anak bisa les nari di berbagai anjungan yang ada. trus lagi dilengkapi dengan kerajinan daerah yang benar-benar menggambarkan daerah asli tempat itu. kalau begitu kan turis yang datang ke jakarta bakal rugi ndak mampir ke tmii. (eh ndak jauh dari tempat saya ada tiga bule cas cis cus ngomongin bali. bali bener atau ‘bali’ alias anjungan bali ya? hehe..)
begitu sukanya saya dengan tmii, saya sampai kueseeelll banget waktu tamini square dibangun di sebelah taman anggrek. hiiihh..mal sudah seabreg-abreg kok ya masih nempel-nempel ke tempat nan sejuk natural begitu. gedungnya juga terlihat paling menjulang. nyebelin deh.
iseng saya segini dulu. saya mau menikmati tarian air dengan musik kicauan burung yang juga menari di udara ah.. sambil makan es krim plus nguping si bule yang agaknya mulai ngomongin china (hehe…sok ngerti dot com)

Meggy Z salah?

Agustus 15, 2008

TIGA hari Noris uring-uringan. Penjual dari warung sebelah itu saki gigi. Katanya, semua berawal dari gusinya yang sakit. Maka, pemandangan lucu dan menarikpun tersaji. Bayangkan, pipi kanannya ditempeli koyo abu-abu saat kami menunggu ada tidaknya bahan yang bisa kami bawa untuk diolah di warung kami masing-masing.
Tak cuma itu. Dia juga banyak diam menahan sakitnya. Aneka obat yang dianggap bisa mengusir sang sakit dicoba. Sampai dia sendiri muntah-muntah! Sembuh?? tentu tidak!
Dia juga terus menyumpah-nyumpah sambil teriak,”lagu Meggy Z bohooong.. Salah, salah lagu itu. Dari pada sakit gigi mending sakit hati. Sakit hati sehari juga baik!”
Tapi herannya, dia ndak juga pergi ke dokter. Heran juga dia tetep bekerja. Ampuuunn..bagaimana bisa sih sakit gigi kok tetap keliling naik motor cari bahan, mengolahnya hingga siap disajikan di warung? Ndak cuma itu, kami yang giginya sehat walafiat masih dengan penuh suka cita mengganggu dan meledeknya! Tega nian ya.. Tapi sang pesakit masih bisa menanggapi biarpun sambil ngedumel. Hmm..jadi mikir. Apa iya si Meggy Z salah seperti yang dia bilang?
Nahh..hari ketiga Noris ndak tahan. Sore, kami memaksanya ke dokter. Maka, RS Kramat 128 jadi pilihan. Ini semata karena lokasinya yang searah dengan warungnya. Saya dan Dije mengawal. Tak lama, Kendi, Isa dan Noval datang juga. Semangat kebersamaan Pena Timur. Begitu kata si Kendi yang pernah ‘dijenguk’ saat nyeruduk trotoar Lapangan Banteng.
Sekitar setengah jam mulut Noris diotak-atik ibu dokter cantik yang tampak wangi (lho..wangi kok kelihatan ya?), uang Rp 145.000 pun melayang. Obatnya? Rp 170 saja untuk ponstan dan antibiotik. Tapi upss..Isa memberi pilihan. “Obat generik ajahhh,” teriaknya. Harganya? Rp 15.000. Saya bengong ndak yakin. Kasirnya bilang, komposisi sama hanya pabriknya beda. Ok, 15.000 rupiah jadi!
Besoknya, suara Noris sudah nyaring lagi. Dia juga langsung lancar membalas serangan ejekan. Meggy Z pun tak lagi dimaki-maki dengan tudingan ndak becus bikin lagu.
Menuliskan itu semua..membuat saya teringat satu pesan yang masuk melalui YM! saya. Pesan itu dikirimnya dalam menyambut Minggu Kawan Sedua (halah..peringatan opo mneh iki yo?). Begini pesan dari sohib semasa sekolah saya itu: Tahukan hubungan 2 biji mata anda? Mereka bergerak bersama, menangis bersama, tidur bersama bahkan menutup pandangan terakhirpun bersama sekalipun keduanya tak pernah saling melihat..kecuali melalui cermin. Persahabatan seharusnya seperti itu.
Begitukan? Saya ndak tau. Tapi buat saya, teman yang baik ndak akan menjerumuskan saat temannya melangkah ke jalan yang salah. Setuju kan? Setujulaaahh..