air di antara ‘pulau sumatera’ dengan tempat saya duduk menari. tiupan angin yang menggerakkannya membentuk garis-garis agak membulat, rapat bersusun dan terus bergerak mengikuti tiupan angin. rimbun daun pohon buah ceri menutupi batang besar kamboja yang menjorok di atas permukaan air. indah.
belum lagi air yang gemulai menari memantulkan warna hijau lembut. aha, agaknya hijau rerumputan memantul di permukaannya.
‘pulau sumatera’ tampak meranggas di beberapa tempat. barangkali pengaruh musim panas. namun keseluruhan tetap menghijau. tak terlihat daun layu tau terbakar. soka merah menyembul di antara daunnya yang rimbun. ada juga bunga-bunga kecil putih lalu oranye yang tak terlihat jelas jenisnya. saya harus memecah tarian air jika harus melihatnya. dan itu kedalamannya sekitar 1,5 meter. begitu informasi dari pak slamet, petugas kebersihan, yang sedang menyapu dedaunan ceri.
hmm..saya ada dimana ya? hehe.. pinggir danau buatan yang memetakan pulau-pulau indonesia di taman mini indonesia indah (tmiiI).
satu dua tahun lalu saya rajin menyambangi tmii pada minggu pagi untuk ikut senam aerobik bersama di monumen tugu api pancasila atau keliling jalan kaki sambil lari-lari kecil lalu setelahnya nyantai sekitar satu jam di pinggir danau ini atau seru-seruan mencari makanan murah meriah yang sengaja digelar di pelataran parkir depan hanya pada minggu pagi. keasyikan yang bisa menghilangkan kejenuhan.
saya suka tmii. ide soeharto dan istrinya yang paling saya suka. sayangnya perkembangannya kurang pesat. padahal, saya pikir, tempat ini bisa hidup lagi. misalnya dengan menghidupkan komunitas semisal yoga atau tai chi pada minggu pagi. tempatnya bisa di museum iptek yang agak kebelakang. disitu tenang. rumah-rumah adat juga bisa disewakan untuk pertemuan komunitas daerah asal bukan pada minggu. iya, soalnya kalau tamu mantennya mbludak kan mengganggu pengunjung ya. atau, tamunya dibatasi jumlahnya aja? memang sih sudah ada sasono langen budoyo trus padepokan pencak silat trus mesjid at tien yang suka dipakai hajatan (khususnya manten). tapi melihat rumah-rumah keren yang sering terlihat begitu-gitu aja kok ga seru ya.
satu lagi. mbok ya kendaraan2 bermesin itu (kecuali petugas, tentu) pada minggu pagi jam-nya berminggu ria ndak sliwar-sliwer. asap knalpotnya kan mengganggu banget buat yang lari pagi.
selain itu, saya berharap tmii bisa jadi pusatnya kesenian tradisional. anak-anak bisa les nari di berbagai anjungan yang ada. trus lagi dilengkapi dengan kerajinan daerah yang benar-benar menggambarkan daerah asli tempat itu. kalau begitu kan turis yang datang ke jakarta bakal rugi ndak mampir ke tmii. (eh ndak jauh dari tempat saya ada tiga bule cas cis cus ngomongin bali. bali bener atau ‘bali’ alias anjungan bali ya? hehe..)
begitu sukanya saya dengan tmii, saya sampai kueseeelll banget waktu tamini square dibangun di sebelah taman anggrek. hiiihh..mal sudah seabreg-abreg kok ya masih nempel-nempel ke tempat nan sejuk natural begitu. gedungnya juga terlihat paling menjulang. nyebelin deh.
iseng saya segini dulu. saya mau menikmati tarian air dengan musik kicauan burung yang juga menari di udara ah.. sambil makan es krim plus nguping si bule yang agaknya mulai ngomongin china (hehe…sok ngerti dot com)
Tag: tmii
November 20, 2008 pukul 3:54 am |
[...] siang di taman mini [...]