Arsip untuk ‘hati’ Kategori

karena bukan pilihan

Oktober 20, 2009

masih bete kalo ingat omongan seorang wanita yang menyebut satu dari dua anaknya, yang kebetulan nggak sesempurna anak lainnya, sebagai aib keluarga. dia pikir, kalo anak itu bisa milih bakal memilih dia sebagai ibunya apa? sok ke-ge-er-an bener tuh emak.
malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya!

aku jatuh cinta

Desember 23, 2008

kusampaikan padamu, aku jatuh cinta. jatuh cinta pada dia yang menyusun huruf-huruf yang berserak lalu menjadikannya kata kemudian menyusunnya menjadi kalimat. kalimat-kalimat sunyi. ah, kesunyian yang indah.

sungguh, aku jatuh cinta. jatuh cinta pada kesunyian yang tercipta itu. diamnya bukan tanpa gaung karena kesadaran membawanya dalam gerak.

ya ya..aku benar-benar jatuh cinta. namun baru sebatas jatuh. kumenunggu untuk benar-benar mencinta. berharap sunyi yang meresap membawaku untuk menggerak.

- terima kasihku untuk 23n

memerdeka

Mei 2, 2008

satu temanku pergi

aku tak menangisi

bukan karena ia tak istimewa lagi

lebih karena ia memilih membebaskan diri

 

yang penting asyik..

April 25, 2008

SUATU malam sekitar Pk. 20:00 seusai membuat beberapa masakan untuk pelanggan, saya menelepon  Sambal Pedas, teman seprofesi dari warung lain. Saya sedang aras-arasen kerja lantaran berpikir apa yang kami sajikan di warung ndak baik untuk pelanggan. Pembeli hanya mendapatkan kenyang tapi menu yang kami sajikan ndak sehat.

Sambal Pedas, yang menerima telepon sambil browsing internet, menceritakan apa yang dilihatnya di monitor. Katanya ada pianis beraksi mengenakan pakaian anti api yang mirip baju astronot. Api membakar dari arah depan pianonya. Sang pianis baru berhenti menekan tuts setelah piano itu ambruk terbakar.
Lain hari pada jam yang hampir sama kami bicara-bicara lagi. Sambal Pedas, yang lagi-lagi menerima telepon sambil browsing, menemukan gambar seorang perenang memecahkan rekor karena dalam usia tidak muda masih mengikuti kejuaraan.
Saat itu, kami ndak ngerti..untuk apa pianis dan perenang melakukan semua itu. Apa gunanya bagi orang lain karena apa yang mereka lakukan sama sekali ndak membantu orang kelaparan, sakit atau korban bencana. Apa bedanya dengan yang saya lakukan?
Hingga beberapa malam berikutnya, si Sambal Pedas bilang begini dari ujung teleponnya, “Yep, ndak penting ada gunanya atau tidak bagi orang lain tapi mereka melakukannya dengan enjoy. Kebetulan kita baru merasa enjoy kalau hal yang kita lakukan ada gunanya buat orang lain.”

belajar dari anak-anak

Maret 21, 2008

Saya akhirnya datang juga ke pertemuan keluarga buruh pabrik. Tanpa perlu berdusta tapi juga tak perlu mengikuti arus. Saya datang sepenuh raga. Jiwa yang sempat tertinggal akhirnya hadir setelah membeli selembar karcis  Rp 10.000 yang bisa kudapat gratis seperti mereka.

Sayang saya datang sangat terlambat. Saya tak bisa ‘menikmati’ tawa mereka yang berpesta seperti saran seorang teman. Tapi saya bisa melihat bagaimana senyum mengembang di wajah bocah-bocah itu kala berkecipak dengan air. Senyum kebagahagiaan. Ah, malu saya melihat kepolosan mereka.

Malu karena saya sudah menyamaratakan semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang yang tak pantas bepesta. Anak-anak..apa yang mereka tahu tentan cara mendapatkan uang untuk membeli secontong es krim? Tak ada. Mereka hanya tau es krim itu manis dan dingin. Enak.

Halo anak-anak teman sepabrik, maafkan saya ya.

 

yang tak pernah pergi

Maret 14, 2008
APA yang harus dilakukan saat pintu rumahmu diketuk dari luar? Membuka pintunya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika sosok yang berada di balik pintu itu ternyata kekasih sejatimu? Dia datang tanpa membawa oleh-oleh bahkan setangkai bunga yang bisa dipetik di pinggir jalan sekalipun.
Aha tentu, tentu dia tak perlu membawa apapun. Karena dia cukup membawa jiwanya seutuhnya. Jiwa yang berpuluh bahkan mungkin berjuta waktu silam yang menerbangkanmu, membawamu mencecap manisnya kebenaran, membelaimu sedemikian rupa hingga meski sedikit, sedikit saja, kakimu tak lagi memijak bumi.
Beberapa hari lalu, kekasih sejati yang kebetulan juga cinta pertamaku (duh..) berkunjung. Aku tak ingat persis kapan ia mengetuk pintu lalu menyelusup masuk. Tapi pasti, aku telah membuka pintunya. Bukan cuma itu, aku ingat sekali ketika membiarkannya masuk lalu membebaskannya memilih di ruang mana ia mau duduk. Bahkan,  diam-diam, aku sedikit berbedak lalu mati-matian memilih hidangan apa yang akan kusajikan. Padahal, sang kekasih hati itu belum memintanya.
Sungguh, kunjungannya membahagiakanku.
Seperti itulah kehadiran satu teman baruku. Bukan, tentu belahan jiwa itu bukan dia jika yang dimaksud sosok ragawi.  Tetapi lebih pada pikiran-pikiran yang dituangkannya dalam deret panjang kata-kata pada beberapa hari terakhir ini. Deretan kata yang sering tajam menukik tak memberi ruang untuk sebuah maaf. Tentu saja aku menjadi betah berlama-lama menghabiskan malam untuk sekadar bertanya, bercerita, mendengar segala hal darinya. Idealisme, dalam segala hal, memang tak memungkinkan memberi kata maaf untuk sedikit saja kesalahan. Apapun alasannya. Termasuk alasan hati atau cinta atau semacamnya yang kadang hanya pemanjaan indra  semata.
Perjumpaan itu begitu mengasyikkannya. Aku menutup telinga agar tak ada suara lain yang menyusup ke gendang telingaku. Aku hanya mau mendengar apa-apa yang dari dirinya. Sekalipun kata yang keluar tak semuanya membuatku mengangguk menyetujui.
Duhai..betapa manis semuanya. Aku terlena dalam buai kebenaran. Aku pun tergoda untuk kembali menapaki jalan nan memikat itu. Hingga dia katakan, “ayo..cari airmu.” Ahh..aku tau disana tempatku. Udaraku. Aiirku. Tanahku.
Tempat itu adalah tempat segala kebenaran. Sesungguhnyalah tempat indah yang terang benderang dengan angin yang berhembus begitu sejuk karena rimbunnya dedaunan. Tempat dengan kasih sayang sebagai mata uangnya. Namun juga tempat yang sunyi. Jalan-jalan menuju tempat itu begitu sepinya karena hanya beberapa orang saja yang mau melewatinya. Itupun tak semua sampai ke tujuan.
Mereka yang tak sampai ke tempat itu atau meninggalkan jalan yang sudah ditempuhnya menuju tempat itu sebenarnya hanya orang-orang yang menggunakan kedua tangannya untuk menutup rapat telinga jiwa dari bisikan sanubarinya. Lalu kepalanya dipakai buat berjalan nelebihi kemampuan langkah kakinya. Semua itu semata untuk mencari jalan pembenaran atas penyumbatan telinganya tadi.
Aksi sirkus yang memuakkan itu banyak terjadi di tempat ini. Di tempat aku berpijak kini. Aku berada di antara pesirkus-pesirkus yang umumnya amatir hingga mudah kutebak permainannya bahkan kejatuhannya. Belajar langsung dari apa yang kutatap dan dengar tentu mudah buatku beraksi lebih baik dari mereka.
Tempat hiruk pikuk ini kuakui sering membuatku lelah. Juga marah alang kepalang. Kadang semakin menyakitkan ketika aku merasa benar-benar sendiri tak mampu menghentikan sejenak saja ajang kegilaan yang memperdengarkan semua jenis musik keras-keras secara bersamaan, menyajikan aneka hidangan dalam satu piring yang sama sekaligus mempertontonkan sirkus yang banyak melibatkan dirinya sendiri sebagai hewan akrobat.
Capek? Ya, aku capek melihat mereka. Sesekali bahkan begitu kecewanya hingga membuatku sedih. Karenanya, kekasih sejati, kunjunganmu begitu melenakan. Aku tergoda untuk kembali bersamamu seperti berpuluh, beratus bahkan berjuta waktu silam ketika jemari kita saling menggenggam.
Aku menjadi gundah. Gelisah berkepanjangan. Dalam pejam mataku hanya bayangan mencari airku yang setepat-tepatnya. Aku toh manusia yang selalu bisa memilih. Separo kakiku ingin kembali melangkah bersamamu menapaki jalan sepi menuju tempat indah yang menentramkan.
Namun, di satu sisi aku tau aku tak lagi bisa terbang. Aku telah membuat satu pilihan sadar dengan panglima terdepan sebuah cinta tanpa syarat yang kuterima sejak lahir. Kini, segala yang kujalani adalah konsekuensi logis atas pilihan itu.
Aku tak bisa lagi tidak menapakkan kedua telapak kakiku rata dengan tanah. Ya, ya, ya, sekalipun bukan tempat terindah bersamamu dulu.
Tapi hei, aku tau siapa diriku. Seperti sebuah iklan minuman, kutau yang kumau.
Yang kumau adalah kekasihku tetap bersamaku. Menemani setiap kali melangkah dan menarik nafas. Sekalipun aku ada di tempat yang hiruk pikuk dengan kebisingan luar biasa. Dalam arena sirkus tanpa batas yang mempertontonkan segala ketidakbenaran, ketidakharusan, keserakahan, kemunafikan dan kesombongan..aku tau aku tak sendiri. Ada kekasih sejati yang menemani sekalipun tak bisa kuraba ujud, kucecap rasa, kuhirup wangi dan kupandangi warnanya. Denganmu aku tak akan terjerembab.
Ya, kunjungan sang teman meyakinkanku. Bahwa kekasih sejati tak akan pernah pergi. Ia bertahta dalam sanubari. Jikapun terlupa, ia akan berbisik. Selalu. Selalu. Persinggahan temanku itu bagai memberiku seteguk air. Layaknya orang yang dipilihNya untuk menghindari keringnya jiwa.
Setelah hari-hari berbagi itu, saatnya bagi dia melanjutkan perjalanan. Ia pengembara yang tak akan meninggalkan jejak.
Maka, pergilah. Seperti keinginannya, tak akan ada air mata. Semuanya telah cukup buaku, juga buat dia. Karena, seperti cita-citanya, dia sudah memberi guna bagi orang lain: mengingatkan kekasih yang akan selalu bersemayam sekalipun tak beraga.

tanpa guna, tau!

Maret 12, 2008

Ini sekedar contoh. Dua inti berita di bawah ini, apa persamaannya?

a. artis A pacaran dengan B yang ternyata sudah punya dua anak.

b. perempuan lajang tewas setelah melahirkan di kamar mandi rumah kontrakannya. 

Saya bilang sama-sama ndak ada gunanya!

Tapi berita-berita seperti itu yang laris manis. Padahal, apa yang bisa dipelajari dari berita begitu? Bahwa jangan pacaran dengan orang yang sudah berkeluarga? Jangan berpacaran berlebihan hingga hamil di luar nikah? Karena akibat dari keduanya bisa malu alang kepalang lantaran ada wartawan yang menulis lalu melaporkannya pada khalayak? Whadoooohhh..

Saya merasa sudah menjadi bagian dari komunitas tanpa guna. Duuhh..

Dua..

Oktober 22, 2007

19 Oktober 2007

Tak ada balon warna-warni, apalagi lilin di angka dua yang harus ditiup.
Ibu dan ayahmu ini hanya bisa bersimpuh menebar melati, memasang mawar putih pada vas tanah di tempat pembaringanmu.
Lalu, rasa cinta itu terpanjat dalam doa. Serasa hangat senyummu menyapa, halus jemari mungilmu menggenggam, lembut kuusap rambutmu.
Lintang, ibu kangen, nak.