Arsip untuk ‘kok gini?’ Kategori

yang penting asyik..

April 25, 2008

SUATU malam sekitar Pk. 20:00 seusai membuat beberapa masakan untuk pelanggan, saya menelepon  Sambal Pedas, teman seprofesi dari warung lain. Saya sedang aras-arasen kerja lantaran berpikir apa yang kami sajikan di warung ndak baik untuk pelanggan. Pembeli hanya mendapatkan kenyang tapi menu yang kami sajikan ndak sehat.

Sambal Pedas, yang menerima telepon sambil browsing internet, menceritakan apa yang dilihatnya di monitor. Katanya ada pianis beraksi mengenakan pakaian anti api yang mirip baju astronot. Api membakar dari arah depan pianonya. Sang pianis baru berhenti menekan tuts setelah piano itu ambruk terbakar.
Lain hari pada jam yang hampir sama kami bicara-bicara lagi. Sambal Pedas, yang lagi-lagi menerima telepon sambil browsing, menemukan gambar seorang perenang memecahkan rekor karena dalam usia tidak muda masih mengikuti kejuaraan.
Saat itu, kami ndak ngerti..untuk apa pianis dan perenang melakukan semua itu. Apa gunanya bagi orang lain karena apa yang mereka lakukan sama sekali ndak membantu orang kelaparan, sakit atau korban bencana. Apa bedanya dengan yang saya lakukan?
Hingga beberapa malam berikutnya, si Sambal Pedas bilang begini dari ujung teleponnya, “Yep, ndak penting ada gunanya atau tidak bagi orang lain tapi mereka melakukannya dengan enjoy. Kebetulan kita baru merasa enjoy kalau hal yang kita lakukan ada gunanya buat orang lain.”

yang pertama

April 22, 2008

BANGUN tidur pagi. Sesaat setelah mata terbuka, apa yang kamu pikirkan?

Kalau saya, “ini hari apa ya? 

Seingat saya, ingatan pertama saat bangun tidur itu sudah terbiasa sejak semasih sekolah dulu. Saya maklum begitu karena jaman sekolah kan hari menentukan tugas dan buku yang harus dibawa. Lha sekarang kok msih gitu ya? Padahal pekerjaan saya kan ndak ada kaitannya sama hari.

Apa ini tanda saya jalan di tempat?   

Kalau kamu, apa yang pertama kamu ingat?

 

Kartini bercelana jins

April 21, 2008

KARTINI. Menyebut namanya saya jadi ingat saat pertama kali ‘berkenalan’ dengan wanita anggun berpikiran jauh melampaui jamannya itu. Saat itu saya baru masuk kelas 1 smp. Tentu, tentu, saya sebelumnya sudah mengetahuinya dengan menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman yang menyanjungnya itu.
Tapi mengenalnya memang baru saat masuk smp melalui ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang diberikan tante tetangga sebelah kiri rumah. Buku tebal itu membuatku jatuh cinta. Cara Kartini bertutur mengungkapkan pikirannya memikatku. Jadilah aku mengenal Tuan dan Nyonya Abendanon, juga Stella yang menjadi sahabatnya. Kartini masuk dalam ingatanku sebagai sosok perempuan halus seperti pada masanya yang raganya diam dalam tembok Jawa namun pikiran-pikirannya meletup-letup melewati berbagai tembok itu.
Mengingat Kartini, juga membuatku mengingat Marsinah, pejuang kaum buruh dengan keberanian mencengangkan. Entah, terbuat dari apa nyalinya hingga ia akhirnya harus dijemput maut dengan cara yang amat tragis. Marsinah yang pemberani, yang yakin dengan apa yang dipercayanya sebagai kebenaran adalah perempuan dengan semangat Kartini.
Lalu, salahkah saya karena menangkap kesan peringatan ulang tahun Kartini hanya bersifat material? Mulai dari anak-anak TK sampe karyawati bank dan pembaca acara di televisi memperingatinya dengan berkebaya dan bersanggul. Saat kecil dulu, saya ikut-ikutan berkebaya dan sanggulan begitu. Lha, emangnya ibu kita itu model untuk pakaian dan sanggul?
Kupikir, Kartini ndak mau dikenang seperti itu. Dia mau perempuan-perempuan Indonesia mewarisi keberaniannya untuk bebas berpikir. Untuk menjadi dirinya sendiri yang adalah juga perempuan. Untuk ndak takut bermimpi. Untuk mewujudkan mimpinya.
Lepas dari itu, peringatan yang cenderung material dengan konde dan kebayanya (lalu bocah-bocah lelaki diminta berpakaian tradisoinal) ndak memberi hasil apa-apa selain orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra. Guru, terutama perempuan, akan lebih efektif menyampaikan pesan Kartini dengan mencontohkan dirinya sendiri yang berdiri di depan kelas untuk mendidik. Sambil menyampaikan hal itu bisa diceritakan dengan bagaimana Kartini harus mendobrak tembok yang mengukungnya untuk bisa mengajar dan terpaksa menelan mimpinya untuk bisa sekolah lebih tinggi.
Atau bisa juga mengundang tamu dengan profesi tertentu (ibu salah satu murid misalnya) untuk bercerita bagaimana ia sewaktu kecil bermimpi lalu berupaya mewujudkan mimpinya hingga menjadi seseorang saat ini. Kupikir cara itu lebih murah dan membuat anak-anak itu lebih mengenal Kartini dengan cita-citanya karena contohnya ada di depan mata.
Kartini. Kalau saja ia di usia 21 hidup di jaman ini, saya yakin ia tak berkonde dan berkebaya. Bisa jadi ia bercelana jins dan bergaya lebih sporty daripada bertank top dengan celana yang memperlihatkan pusar dan belahan atas bokongnya.

Teori tanpa praktek

April 16, 2008

WARUNG (ralat: bukan pabrik) tempat saya bekerja belum lama ini menyuruh saya belajar berbagai resep baru. Tentu saya senang karena bakal ada menu baru yang bisa saya persembahkan bagi pelanggan. Maka, dua kali dalam seminggu dalam delapan kali pertemuan saya belajar berbagai resep. Ah, sebenarnya apa yang diajarkan bukan resep yang sama sekali baru buat saya secara saya sudah pernah membaca-baca resep itu di buku resep yang saya beli dari toko buku di sebelah warung. Namun, kali ini bos warung yang menunjuk saya untuk belajar.  Maka, terpikirkal aneka macam menu baru yang bakal kami sajikan untuk pelanggan. Terbayang bagaimana mereka mencecap nikmatnya masakan yang bakal saya sajikan.

Seminggu setelah sekolah itu, semangat mencoba resep baru pun menggunung. Maka, satu resep dengan bahan dasar yang biasa kami gunakan saya siap untuk mengolah dengan bumbu baru. Kisah wanita muda yang tewas saat menggugurkan janin 2,5 bulannya pun tersaji dengan bumbu penuturan Kahlil Gibran soal anak. Atau bumbu dari Toto Sudarto Bachtiar yang mengawali tulisan panjang seringnya perempuan pelapor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencabut laporan atas perbuatan pelaku yang adalah juga suaminya.

Hasilnya? Belum juga hidangan itu sampai ke piring pelanggan, bos warung sudah membuang resep tambahan itu. Whaaaa..

Saya malas bertanya alasannya tak menyajikan menu buatan saya itu. Bos selalu bilang pelanggan warung kami yang ekonominya pas-pasan pasti ndak suka masakan aneh. “Tempe ya tempe, jangan dirambah dengan bumbu a la spagheti dong.”

Padahal, pelanggan warung pun bosan makan menu tempe yang hanya digoreng, digoreng tepung, diorak-arik atau dicampur dengan lodeh. Atau jangan-jangan sang bos sendiri yang belum terbiasa mencicipi makanan baru lalu berpikir pelanggan juga ndak suka?

Saya mencoba berpikir positif: baru dua kali ditolak..belum sejuta kali!

Tapi, dasar saya, pikiran negatif juga muncul: lalu ngapain bayar mahal-mahal nyekolahin anak buah kalau menu yang disajikan tetap itu-itu sajaaaa??

 

sayang anak?

April 11, 2008

TEMAN sepabrik abrik saya, lajang 36 tahun, jam duabelas malam teng menelepon. Suaranya, seperti biasa, tenang. Tapi saya bisa menangkap nada marahnya.
Teman saya bertemu dengan temannya dalam sebuah perjumpaan yang tak disengaja. Lama tak bertemu sementara waktu menunjukkan jam makan siang, keduanya sepakat mencari tempat enak untuk makan sambil ngobrol.
Entah bagaimana awalnya, pembicaraanpun sampai pada masalah yang membuat teman saya menelepon di jam tak wajar itu. Katanya, teman dia yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan itu menerima banyak titipan nomor dari rekan dan kerabatnya. Nomor itu adalah nomor tes masuk sekolah untuk tahun ajaran baru. Kata temannya teman saya itu, kebetulan anak-anak itu pintar hanya orangtuanya yang tak pe-de hingga perlu memastikan dengan menitipkan nomor itu. (lagi…)