Arsip untuk ‘mbuh ah’ Kategori

simsalabim 22 desember

Desember 23, 2008

22 desember. saya ingat. di dalam kelas, sejak sd, guru saya menjelaskan tanggal itu dipersembahkan untuk memperingati kongresnya perempuan-perempuan indonesia jaman baheula. ada 30 organisasi perempuan yang berketetapan hati untuk ikut berjuang perempuan indonesia dan terbentuknya bumi indonesia. hhmm..bukan main gagahnya ya srikandi-srikandi itu. dan itu tahun 1928! kebayang dong betapa berani dan hebatnya mereka.

maka, melalui dekrit presiden no. 316/1953, soekarno memberi penghormatan agung untuk perempuan-perempuan itu. ia menetapkan tanggal dimulainya kongres itu sebagai hari ibu. entah mengapa pengetahuan itu cuma sebatas sejarah. iya, saya sebut pengetahuan karena memang hanya sebatas untuk tahu atau diketahui.

kenyataannya..sejauh ingatan saya, yang sebetulnya ndak jauh-jauh amat ini, ketika di luar kelas, 22 desember tak lagi bermakna seperti semangat awalnya. hari itu menjadi harinya keibuan para perempuan yang dihormati dan disayangi anak-anak dan suaminya.

saya ingat kok, jaman remaja dulu (cihuiii..) kalo hari ibu saya dan teman-teman sibuk bikin puisi atau apalah gitu untuk diberikan ke ibu. ndak lupa cium pipinya. pernah juga lho ikut-ikutan wabah membebastugaskan ibu saya dari kegiatan turin memasak. dan ibu saya, sama seperti ibu-ibu lainnya, dengan kebanggan dan keharuan memenuhi dada, makan masakan saya yang pasti kurang bumbu. (ibu, maafkan saya atas penderitaan lidahmu ya.)

tapi ehh..apa itu maksud awal si bung? kayaknya ndak ya. lalu siapa yang menggeser semangat perjuangan itu menjadi model mother’s day (halah impor!)? bagaimana bisa ya semangat perempuan jadoel nan gagah perwira itu menjadi peringatan kasih sayang keibuan perempuan untuk anak dan suami? ndak ada salahnya dengan peran rumah tangga tetapi dua hal itu bukannya berbeda makna?

atau karena semangat awal 22 desember tabrakan dengan spirit hari kartini? ah ya..lepas dari kontroversi siapa penulis ‘habis gelap terbitlah terang’, semangat kedua hari kebangsaan itu memang 11-12. sama-sama mengenang dan menghormati perempuan pemberani di jamannya. persamaannya lagi..hari kartini menjadi hari parade sanggul dan pakaian nasional (padahal kalau kartini hidup di jaman ini paling-paling ia bercelana jins hehe..). lalu hari ibu..simsalabim..para ibu bebas tugas memasak (lha..kaum ibu yang setiap hari menyerahkan urusan domestik pada pembantu gimana? hhmm..dapat bunga+sun sayang dari ananda kali ya).

ada ironi disini..keberanian perempuan-perempuan jaman dulu untuk maju kini malah diperingati dengan simbolisasi sanggul dan dapur. hmmh..itu untuk mengingatkan perempuan pada kodratnya, kata satu teman saya. barangkali maksud teman saya itu, perempuan mulai terancam karena sanggul sudah mulai dipakai kaum lelaki (tessy kali ya) dan dapur..ehhh..yang jago malah rudy, bara atau bondan ‘mak nyos’ winarno. ah, saya pikir alasan itu hanya mencari pembenaran. siapapun bisa. (jadi kebayang nih kalau dulu si bung tak mengabadikan 22 desember sebagai hari ibu tetapi hari perempuan indonesia..)

buat saya sih, saya tetap sayang sama ibu saya dan saya kepingin jadi ibu yang disayang anak saya. tetapi 22 desember ini saya mau bilang..ayo terus maju perempuan edoneseaaaa.. (ah, malu saya teriak begitu. secara saya kok ya gini-gini aja, mana sumbangsih untuk negara ya? pusing. tepuk jidat. hhh..ternyata memang lebih gampang membebastugaskan ibu saya dari dapur, toh cuma sehari!).***

catt. data sejarah hari ibu saya intip dari oom wiki

siang di taman mini

Agustus 26, 2008

air di antara ‘pulau sumatera’ dengan tempat saya duduk menari. tiupan angin yang menggerakkannya membentuk garis-garis agak membulat, rapat bersusun dan terus bergerak mengikuti tiupan angin. rimbun daun pohon buah ceri menutupi batang besar kamboja yang menjorok di atas permukaan air. indah.
belum lagi air yang gemulai menari memantulkan warna hijau lembut. aha, agaknya hijau rerumputan memantul di permukaannya.
‘pulau sumatera’ tampak meranggas di beberapa tempat. barangkali pengaruh musim panas. namun keseluruhan tetap menghijau. tak terlihat daun layu tau terbakar. soka merah menyembul di antara daunnya yang rimbun. ada juga bunga-bunga kecil putih lalu oranye yang tak terlihat jelas jenisnya. saya harus memecah tarian air jika harus melihatnya. dan itu kedalamannya sekitar 1,5 meter. begitu informasi dari pak slamet, petugas kebersihan, yang sedang menyapu dedaunan ceri.
hmm..saya ada dimana ya? hehe.. pinggir danau buatan yang memetakan pulau-pulau indonesia di taman mini indonesia indah (tmiiI).
satu dua tahun lalu saya rajin menyambangi tmii pada minggu pagi untuk ikut senam aerobik bersama di monumen tugu api pancasila atau keliling jalan kaki sambil lari-lari kecil lalu setelahnya nyantai sekitar satu jam di pinggir danau ini atau seru-seruan mencari makanan murah meriah yang sengaja digelar di pelataran parkir depan hanya pada minggu pagi. keasyikan yang bisa menghilangkan kejenuhan.
saya suka tmii. ide soeharto dan istrinya yang paling saya suka. sayangnya perkembangannya kurang pesat. padahal, saya pikir, tempat ini bisa hidup lagi. misalnya dengan menghidupkan komunitas semisal yoga atau tai chi pada minggu pagi. tempatnya bisa di museum iptek yang agak kebelakang. disitu tenang. rumah-rumah adat juga bisa disewakan untuk pertemuan komunitas daerah asal bukan pada minggu. iya, soalnya kalau tamu mantennya mbludak kan mengganggu pengunjung ya. atau, tamunya dibatasi jumlahnya aja? memang sih sudah ada sasono langen budoyo trus padepokan pencak silat trus mesjid at tien yang suka dipakai hajatan (khususnya manten). tapi melihat rumah-rumah keren yang sering terlihat begitu-gitu aja kok ga seru ya.
satu lagi. mbok ya kendaraan2 bermesin itu (kecuali petugas, tentu) pada minggu pagi jam-nya berminggu ria ndak sliwar-sliwer. asap knalpotnya kan mengganggu banget buat yang lari pagi.
selain itu, saya berharap tmii bisa jadi pusatnya kesenian tradisional. anak-anak bisa les nari di berbagai anjungan yang ada. trus lagi dilengkapi dengan kerajinan daerah yang benar-benar menggambarkan daerah asli tempat itu. kalau begitu kan turis yang datang ke jakarta bakal rugi ndak mampir ke tmii. (eh ndak jauh dari tempat saya ada tiga bule cas cis cus ngomongin bali. bali bener atau ‘bali’ alias anjungan bali ya? hehe..)
begitu sukanya saya dengan tmii, saya sampai kueseeelll banget waktu tamini square dibangun di sebelah taman anggrek. hiiihh..mal sudah seabreg-abreg kok ya masih nempel-nempel ke tempat nan sejuk natural begitu. gedungnya juga terlihat paling menjulang. nyebelin deh.
iseng saya segini dulu. saya mau menikmati tarian air dengan musik kicauan burung yang juga menari di udara ah.. sambil makan es krim plus nguping si bule yang agaknya mulai ngomongin china (hehe…sok ngerti dot com)

garansi hidup

Juni 12, 2008

SATU orang dekat datang ke saya dengan wajah lusuh. Tampang seperti itu sudah saya pahami benar. Saya tahu, dia datang tapi dia akan diam. Diam yam yam..tanpa sepotong kata terucap. Pun saya tak akan mendapat jawabnya andai pertanyaan terlontar. Bingung? Sama.

Saya hanya ndak mengerti kenapa dia kok senang sekali memasang tampang manisnya menjadi berlipat-lipat begitu. Padahal, kalau dia tak begitu..sungguh dia manis. Karenanya, setiap kali dia tersenyum yang sungguh senyum (bukan karena terpaksa) saya selalu melihat matahari ada di matanya.

Setelah memancing-macing yang memakan waktu lama,  saya dapat gambarannya. Ah, si manis ini memang punya masalah. Tapi saya pikir masalahnya bukan seperti perkiraannya. Masalahnya bukan karena dia sednag bermasalah dengan satu hal tetapi maslaahnya terletak dari cara dia berpikir, cara dia memandang akan berbagai hal.

Buat saya, khawatir itu wajar. Karenanya kita akan bersiap diri untuk menghindari apa yang kita khawatirkan. Tapi takut? Dalam pandangan saya, takut itu justru kita yang buat. takut lebih pada rasa sednagkan khawatir cenderung pada pikir. Karenanya, kekhawatiran akan dijawab dengan tindakan logis menghindari hal buruk. Tapi takut biasanya terjawab dengan ketakutan-ketakutan lain yang super heboh. Ini kata saya lho, ini pandangan saya.

Ngapain takut, lha wong urip wis ono sing nggransi je hehe.. Lalu buat yang ndak percaya hidup sudah ada yang mengeransi maka tentu dia akan membuat garansi bagi dirinya sendiri. Jadi teteup..ndak perlu takut hidup!