masih bete kalo ingat omongan seorang wanita yang menyebut satu dari dua anaknya, yang kebetulan nggak sesempurna anak lainnya, sebagai aib keluarga. dia pikir, kalo anak itu bisa milih bakal memilih dia sebagai ibunya apa? sok ke-ge-er-an bener tuh emak.
malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya!
Arsip untuk ‘sekitar saya’ Kategori
karena bukan pilihan
Oktober 20, 2009simsalabim 22 desember
Desember 23, 200822 desember. saya ingat. di dalam kelas, sejak sd, guru saya menjelaskan tanggal itu dipersembahkan untuk memperingati kongresnya perempuan-perempuan indonesia jaman baheula. ada 30 organisasi perempuan yang berketetapan hati untuk ikut berjuang perempuan indonesia dan terbentuknya bumi indonesia. hhmm..bukan main gagahnya ya srikandi-srikandi itu. dan itu tahun 1928! kebayang dong betapa berani dan hebatnya mereka.
maka, melalui dekrit presiden no. 316/1953, soekarno memberi penghormatan agung untuk perempuan-perempuan itu. ia menetapkan tanggal dimulainya kongres itu sebagai hari ibu. entah mengapa pengetahuan itu cuma sebatas sejarah. iya, saya sebut pengetahuan karena memang hanya sebatas untuk tahu atau diketahui.
kenyataannya..sejauh ingatan saya, yang sebetulnya ndak jauh-jauh amat ini, ketika di luar kelas, 22 desember tak lagi bermakna seperti semangat awalnya. hari itu menjadi harinya keibuan para perempuan yang dihormati dan disayangi anak-anak dan suaminya.
saya ingat kok, jaman remaja dulu (cihuiii..) kalo hari ibu saya dan teman-teman sibuk bikin puisi atau apalah gitu untuk diberikan ke ibu. ndak lupa cium pipinya. pernah juga lho ikut-ikutan wabah membebastugaskan ibu saya dari kegiatan turin memasak. dan ibu saya, sama seperti ibu-ibu lainnya, dengan kebanggan dan keharuan memenuhi dada, makan masakan saya yang pasti kurang bumbu. (ibu, maafkan saya atas penderitaan lidahmu ya.)
tapi ehh..apa itu maksud awal si bung? kayaknya ndak ya. lalu siapa yang menggeser semangat perjuangan itu menjadi model mother’s day (halah impor!)? bagaimana bisa ya semangat perempuan jadoel nan gagah perwira itu menjadi peringatan kasih sayang keibuan perempuan untuk anak dan suami? ndak ada salahnya dengan peran rumah tangga tetapi dua hal itu bukannya berbeda makna?
atau karena semangat awal 22 desember tabrakan dengan spirit hari kartini? ah ya..lepas dari kontroversi siapa penulis ‘habis gelap terbitlah terang’, semangat kedua hari kebangsaan itu memang 11-12. sama-sama mengenang dan menghormati perempuan pemberani di jamannya. persamaannya lagi..hari kartini menjadi hari parade sanggul dan pakaian nasional (padahal kalau kartini hidup di jaman ini paling-paling ia bercelana jins hehe..). lalu hari ibu..simsalabim..para ibu bebas tugas memasak (lha..kaum ibu yang setiap hari menyerahkan urusan domestik pada pembantu gimana? hhmm..dapat bunga+sun sayang dari ananda kali ya).
ada ironi disini..keberanian perempuan-perempuan jaman dulu untuk maju kini malah diperingati dengan simbolisasi sanggul dan dapur. hmmh..itu untuk mengingatkan perempuan pada kodratnya, kata satu teman saya. barangkali maksud teman saya itu, perempuan mulai terancam karena sanggul sudah mulai dipakai kaum lelaki (tessy kali ya) dan dapur..ehhh..yang jago malah rudy, bara atau bondan ‘mak nyos’ winarno. ah, saya pikir alasan itu hanya mencari pembenaran. siapapun bisa. (jadi kebayang nih kalau dulu si bung tak mengabadikan 22 desember sebagai hari ibu tetapi hari perempuan indonesia..)
buat saya sih, saya tetap sayang sama ibu saya dan saya kepingin jadi ibu yang disayang anak saya. tetapi 22 desember ini saya mau bilang..ayo terus maju perempuan edoneseaaaa.. (ah, malu saya teriak begitu. secara saya kok ya gini-gini aja, mana sumbangsih untuk negara ya? pusing. tepuk jidat. hhh..ternyata memang lebih gampang membebastugaskan ibu saya dari dapur, toh cuma sehari!).***
catt. data sejarah hari ibu saya intip dari oom wiki