Arsip untuk ‘teman’ Kategori

Meggy Z salah?

Agustus 15, 2008

TIGA hari Noris uring-uringan. Penjual dari warung sebelah itu saki gigi. Katanya, semua berawal dari gusinya yang sakit. Maka, pemandangan lucu dan menarikpun tersaji. Bayangkan, pipi kanannya ditempeli koyo abu-abu saat kami menunggu ada tidaknya bahan yang bisa kami bawa untuk diolah di warung kami masing-masing.
Tak cuma itu. Dia juga banyak diam menahan sakitnya. Aneka obat yang dianggap bisa mengusir sang sakit dicoba. Sampai dia sendiri muntah-muntah! Sembuh?? tentu tidak!
Dia juga terus menyumpah-nyumpah sambil teriak,”lagu Meggy Z bohooong.. Salah, salah lagu itu. Dari pada sakit gigi mending sakit hati. Sakit hati sehari juga baik!”
Tapi herannya, dia ndak juga pergi ke dokter. Heran juga dia tetep bekerja. Ampuuunn..bagaimana bisa sih sakit gigi kok tetap keliling naik motor cari bahan, mengolahnya hingga siap disajikan di warung? Ndak cuma itu, kami yang giginya sehat walafiat masih dengan penuh suka cita mengganggu dan meledeknya! Tega nian ya.. Tapi sang pesakit masih bisa menanggapi biarpun sambil ngedumel. Hmm..jadi mikir. Apa iya si Meggy Z salah seperti yang dia bilang?
Nahh..hari ketiga Noris ndak tahan. Sore, kami memaksanya ke dokter. Maka, RS Kramat 128 jadi pilihan. Ini semata karena lokasinya yang searah dengan warungnya. Saya dan Dije mengawal. Tak lama, Kendi, Isa dan Noval datang juga. Semangat kebersamaan Pena Timur. Begitu kata si Kendi yang pernah ‘dijenguk’ saat nyeruduk trotoar Lapangan Banteng.
Sekitar setengah jam mulut Noris diotak-atik ibu dokter cantik yang tampak wangi (lho..wangi kok kelihatan ya?), uang Rp 145.000 pun melayang. Obatnya? Rp 170 saja untuk ponstan dan antibiotik. Tapi upss..Isa memberi pilihan. “Obat generik ajahhh,” teriaknya. Harganya? Rp 15.000. Saya bengong ndak yakin. Kasirnya bilang, komposisi sama hanya pabriknya beda. Ok, 15.000 rupiah jadi!
Besoknya, suara Noris sudah nyaring lagi. Dia juga langsung lancar membalas serangan ejekan. Meggy Z pun tak lagi dimaki-maki dengan tudingan ndak becus bikin lagu.
Menuliskan itu semua..membuat saya teringat satu pesan yang masuk melalui YM! saya. Pesan itu dikirimnya dalam menyambut Minggu Kawan Sedua (halah..peringatan opo mneh iki yo?). Begini pesan dari sohib semasa sekolah saya itu: Tahukan hubungan 2 biji mata anda? Mereka bergerak bersama, menangis bersama, tidur bersama bahkan menutup pandangan terakhirpun bersama sekalipun keduanya tak pernah saling melihat..kecuali melalui cermin. Persahabatan seharusnya seperti itu.
Begitukan? Saya ndak tau. Tapi buat saya, teman yang baik ndak akan menjerumuskan saat temannya melangkah ke jalan yang salah. Setuju kan? Setujulaaahh..

memerdeka

Mei 2, 2008

satu temanku pergi

aku tak menangisi

bukan karena ia tak istimewa lagi

lebih karena ia memilih membebaskan diri

 

ngobrol

April 14, 2008

saya: haloo..kayak yang melamun sih?

teman: saya mencoba tetap disini. tapi jiwa yang dicari belum ketemu

saya: apa dong yang bisa saya bantu?

teman: hah..? beri saya indra lagi

saya: wahh..kalau itu sih buka saja semua sel yang ada di dalam dirimu. di badanmu, di hatimu, di pikiranmu.

teman: (geleng-geleng. menolak atau menganggap salah saran saya ya?)

 

catatan:

teman saya adalah seorang pencari

saya? orang bodoh yang banyak kepingin tahu

belajar dari anak-anak

Maret 21, 2008

Saya akhirnya datang juga ke pertemuan keluarga buruh pabrik. Tanpa perlu berdusta tapi juga tak perlu mengikuti arus. Saya datang sepenuh raga. Jiwa yang sempat tertinggal akhirnya hadir setelah membeli selembar karcis  Rp 10.000 yang bisa kudapat gratis seperti mereka.

Sayang saya datang sangat terlambat. Saya tak bisa ‘menikmati’ tawa mereka yang berpesta seperti saran seorang teman. Tapi saya bisa melihat bagaimana senyum mengembang di wajah bocah-bocah itu kala berkecipak dengan air. Senyum kebagahagiaan. Ah, malu saya melihat kepolosan mereka.

Malu karena saya sudah menyamaratakan semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang yang tak pantas bepesta. Anak-anak..apa yang mereka tahu tentan cara mendapatkan uang untuk membeli secontong es krim? Tak ada. Mereka hanya tau es krim itu manis dan dingin. Enak.

Halo anak-anak teman sepabrik, maafkan saya ya.

 

yang tak pernah pergi

Maret 14, 2008
APA yang harus dilakukan saat pintu rumahmu diketuk dari luar? Membuka pintunya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika sosok yang berada di balik pintu itu ternyata kekasih sejatimu? Dia datang tanpa membawa oleh-oleh bahkan setangkai bunga yang bisa dipetik di pinggir jalan sekalipun.
Aha tentu, tentu dia tak perlu membawa apapun. Karena dia cukup membawa jiwanya seutuhnya. Jiwa yang berpuluh bahkan mungkin berjuta waktu silam yang menerbangkanmu, membawamu mencecap manisnya kebenaran, membelaimu sedemikian rupa hingga meski sedikit, sedikit saja, kakimu tak lagi memijak bumi.
Beberapa hari lalu, kekasih sejati yang kebetulan juga cinta pertamaku (duh..) berkunjung. Aku tak ingat persis kapan ia mengetuk pintu lalu menyelusup masuk. Tapi pasti, aku telah membuka pintunya. Bukan cuma itu, aku ingat sekali ketika membiarkannya masuk lalu membebaskannya memilih di ruang mana ia mau duduk. Bahkan,  diam-diam, aku sedikit berbedak lalu mati-matian memilih hidangan apa yang akan kusajikan. Padahal, sang kekasih hati itu belum memintanya.
Sungguh, kunjungannya membahagiakanku.
Seperti itulah kehadiran satu teman baruku. Bukan, tentu belahan jiwa itu bukan dia jika yang dimaksud sosok ragawi.  Tetapi lebih pada pikiran-pikiran yang dituangkannya dalam deret panjang kata-kata pada beberapa hari terakhir ini. Deretan kata yang sering tajam menukik tak memberi ruang untuk sebuah maaf. Tentu saja aku menjadi betah berlama-lama menghabiskan malam untuk sekadar bertanya, bercerita, mendengar segala hal darinya. Idealisme, dalam segala hal, memang tak memungkinkan memberi kata maaf untuk sedikit saja kesalahan. Apapun alasannya. Termasuk alasan hati atau cinta atau semacamnya yang kadang hanya pemanjaan indra  semata.
Perjumpaan itu begitu mengasyikkannya. Aku menutup telinga agar tak ada suara lain yang menyusup ke gendang telingaku. Aku hanya mau mendengar apa-apa yang dari dirinya. Sekalipun kata yang keluar tak semuanya membuatku mengangguk menyetujui.
Duhai..betapa manis semuanya. Aku terlena dalam buai kebenaran. Aku pun tergoda untuk kembali menapaki jalan nan memikat itu. Hingga dia katakan, “ayo..cari airmu.” Ahh..aku tau disana tempatku. Udaraku. Aiirku. Tanahku.
Tempat itu adalah tempat segala kebenaran. Sesungguhnyalah tempat indah yang terang benderang dengan angin yang berhembus begitu sejuk karena rimbunnya dedaunan. Tempat dengan kasih sayang sebagai mata uangnya. Namun juga tempat yang sunyi. Jalan-jalan menuju tempat itu begitu sepinya karena hanya beberapa orang saja yang mau melewatinya. Itupun tak semua sampai ke tujuan.
Mereka yang tak sampai ke tempat itu atau meninggalkan jalan yang sudah ditempuhnya menuju tempat itu sebenarnya hanya orang-orang yang menggunakan kedua tangannya untuk menutup rapat telinga jiwa dari bisikan sanubarinya. Lalu kepalanya dipakai buat berjalan nelebihi kemampuan langkah kakinya. Semua itu semata untuk mencari jalan pembenaran atas penyumbatan telinganya tadi.
Aksi sirkus yang memuakkan itu banyak terjadi di tempat ini. Di tempat aku berpijak kini. Aku berada di antara pesirkus-pesirkus yang umumnya amatir hingga mudah kutebak permainannya bahkan kejatuhannya. Belajar langsung dari apa yang kutatap dan dengar tentu mudah buatku beraksi lebih baik dari mereka.
Tempat hiruk pikuk ini kuakui sering membuatku lelah. Juga marah alang kepalang. Kadang semakin menyakitkan ketika aku merasa benar-benar sendiri tak mampu menghentikan sejenak saja ajang kegilaan yang memperdengarkan semua jenis musik keras-keras secara bersamaan, menyajikan aneka hidangan dalam satu piring yang sama sekaligus mempertontonkan sirkus yang banyak melibatkan dirinya sendiri sebagai hewan akrobat.
Capek? Ya, aku capek melihat mereka. Sesekali bahkan begitu kecewanya hingga membuatku sedih. Karenanya, kekasih sejati, kunjunganmu begitu melenakan. Aku tergoda untuk kembali bersamamu seperti berpuluh, beratus bahkan berjuta waktu silam ketika jemari kita saling menggenggam.
Aku menjadi gundah. Gelisah berkepanjangan. Dalam pejam mataku hanya bayangan mencari airku yang setepat-tepatnya. Aku toh manusia yang selalu bisa memilih. Separo kakiku ingin kembali melangkah bersamamu menapaki jalan sepi menuju tempat indah yang menentramkan.
Namun, di satu sisi aku tau aku tak lagi bisa terbang. Aku telah membuat satu pilihan sadar dengan panglima terdepan sebuah cinta tanpa syarat yang kuterima sejak lahir. Kini, segala yang kujalani adalah konsekuensi logis atas pilihan itu.
Aku tak bisa lagi tidak menapakkan kedua telapak kakiku rata dengan tanah. Ya, ya, ya, sekalipun bukan tempat terindah bersamamu dulu.
Tapi hei, aku tau siapa diriku. Seperti sebuah iklan minuman, kutau yang kumau.
Yang kumau adalah kekasihku tetap bersamaku. Menemani setiap kali melangkah dan menarik nafas. Sekalipun aku ada di tempat yang hiruk pikuk dengan kebisingan luar biasa. Dalam arena sirkus tanpa batas yang mempertontonkan segala ketidakbenaran, ketidakharusan, keserakahan, kemunafikan dan kesombongan..aku tau aku tak sendiri. Ada kekasih sejati yang menemani sekalipun tak bisa kuraba ujud, kucecap rasa, kuhirup wangi dan kupandangi warnanya. Denganmu aku tak akan terjerembab.
Ya, kunjungan sang teman meyakinkanku. Bahwa kekasih sejati tak akan pernah pergi. Ia bertahta dalam sanubari. Jikapun terlupa, ia akan berbisik. Selalu. Selalu. Persinggahan temanku itu bagai memberiku seteguk air. Layaknya orang yang dipilihNya untuk menghindari keringnya jiwa.
Setelah hari-hari berbagi itu, saatnya bagi dia melanjutkan perjalanan. Ia pengembara yang tak akan meninggalkan jejak.
Maka, pergilah. Seperti keinginannya, tak akan ada air mata. Semuanya telah cukup buaku, juga buat dia. Karena, seperti cita-citanya, dia sudah memberi guna bagi orang lain: mengingatkan kekasih yang akan selalu bersemayam sekalipun tak beraga.