Kartini bercelana jins

April 21, 2008 oleh yepe

KARTINI. Menyebut namanya saya jadi ingat saat pertama kali ‘berkenalan’ dengan wanita anggun berpikiran jauh melampaui jamannya itu. Saat itu saya baru masuk kelas 1 smp. Tentu, tentu, saya sebelumnya sudah mengetahuinya dengan menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman yang menyanjungnya itu.
Tapi mengenalnya memang baru saat masuk smp melalui ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ yang diberikan tante tetangga sebelah kiri rumah. Buku tebal itu membuatku jatuh cinta. Cara Kartini bertutur mengungkapkan pikirannya memikatku. Jadilah aku mengenal Tuan dan Nyonya Abendanon, juga Stella yang menjadi sahabatnya. Kartini masuk dalam ingatanku sebagai sosok perempuan halus seperti pada masanya yang raganya diam dalam tembok Jawa namun pikiran-pikirannya meletup-letup melewati berbagai tembok itu.
Mengingat Kartini, juga membuatku mengingat Marsinah, pejuang kaum buruh dengan keberanian mencengangkan. Entah, terbuat dari apa nyalinya hingga ia akhirnya harus dijemput maut dengan cara yang amat tragis. Marsinah yang pemberani, yang yakin dengan apa yang dipercayanya sebagai kebenaran adalah perempuan dengan semangat Kartini.
Lalu, salahkah saya karena menangkap kesan peringatan ulang tahun Kartini hanya bersifat material? Mulai dari anak-anak TK sampe karyawati bank dan pembaca acara di televisi memperingatinya dengan berkebaya dan bersanggul. Saat kecil dulu, saya ikut-ikutan berkebaya dan sanggulan begitu. Lha, emangnya ibu kita itu model untuk pakaian dan sanggul?
Kupikir, Kartini ndak mau dikenang seperti itu. Dia mau perempuan-perempuan Indonesia mewarisi keberaniannya untuk bebas berpikir. Untuk menjadi dirinya sendiri yang adalah juga perempuan. Untuk ndak takut bermimpi. Untuk mewujudkan mimpinya.
Lepas dari itu, peringatan yang cenderung material dengan konde dan kebayanya (lalu bocah-bocah lelaki diminta berpakaian tradisoinal) ndak memberi hasil apa-apa selain orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra. Guru, terutama perempuan, akan lebih efektif menyampaikan pesan Kartini dengan mencontohkan dirinya sendiri yang berdiri di depan kelas untuk mendidik. Sambil menyampaikan hal itu bisa diceritakan dengan bagaimana Kartini harus mendobrak tembok yang mengukungnya untuk bisa mengajar dan terpaksa menelan mimpinya untuk bisa sekolah lebih tinggi.
Atau bisa juga mengundang tamu dengan profesi tertentu (ibu salah satu murid misalnya) untuk bercerita bagaimana ia sewaktu kecil bermimpi lalu berupaya mewujudkan mimpinya hingga menjadi seseorang saat ini. Kupikir cara itu lebih murah dan membuat anak-anak itu lebih mengenal Kartini dengan cita-citanya karena contohnya ada di depan mata.
Kartini. Kalau saja ia di usia 21 hidup di jaman ini, saya yakin ia tak berkonde dan berkebaya. Bisa jadi ia bercelana jins dan bergaya lebih sporty daripada bertank top dengan celana yang memperlihatkan pusar dan belahan atas bokongnya.

Teori tanpa praktek

April 16, 2008 oleh yepe

WARUNG (ralat: bukan pabrik) tempat saya bekerja belum lama ini menyuruh saya belajar berbagai resep baru. Tentu saya senang karena bakal ada menu baru yang bisa saya persembahkan bagi pelanggan. Maka, dua kali dalam seminggu dalam delapan kali pertemuan saya belajar berbagai resep. Ah, sebenarnya apa yang diajarkan bukan resep yang sama sekali baru buat saya secara saya sudah pernah membaca-baca resep itu di buku resep yang saya beli dari toko buku di sebelah warung. Namun, kali ini bos warung yang menunjuk saya untuk belajar.  Maka, terpikirkal aneka macam menu baru yang bakal kami sajikan untuk pelanggan. Terbayang bagaimana mereka mencecap nikmatnya masakan yang bakal saya sajikan.

Seminggu setelah sekolah itu, semangat mencoba resep baru pun menggunung. Maka, satu resep dengan bahan dasar yang biasa kami gunakan saya siap untuk mengolah dengan bumbu baru. Kisah wanita muda yang tewas saat menggugurkan janin 2,5 bulannya pun tersaji dengan bumbu penuturan Kahlil Gibran soal anak. Atau bumbu dari Toto Sudarto Bachtiar yang mengawali tulisan panjang seringnya perempuan pelapor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencabut laporan atas perbuatan pelaku yang adalah juga suaminya.

Hasilnya? Belum juga hidangan itu sampai ke piring pelanggan, bos warung sudah membuang resep tambahan itu. Whaaaa..

Saya malas bertanya alasannya tak menyajikan menu buatan saya itu. Bos selalu bilang pelanggan warung kami yang ekonominya pas-pasan pasti ndak suka masakan aneh. “Tempe ya tempe, jangan dirambah dengan bumbu a la spagheti dong.”

Padahal, pelanggan warung pun bosan makan menu tempe yang hanya digoreng, digoreng tepung, diorak-arik atau dicampur dengan lodeh. Atau jangan-jangan sang bos sendiri yang belum terbiasa mencicipi makanan baru lalu berpikir pelanggan juga ndak suka?

Saya mencoba berpikir positif: baru dua kali ditolak..belum sejuta kali!

Tapi, dasar saya, pikiran negatif juga muncul: lalu ngapain bayar mahal-mahal nyekolahin anak buah kalau menu yang disajikan tetap itu-itu sajaaaa??

 

ngobrol

April 14, 2008 oleh yepe

saya: haloo..kayak yang melamun sih?

teman: saya mencoba tetap disini. tapi jiwa yang dicari belum ketemu

saya: apa dong yang bisa saya bantu?

teman: hah..? beri saya indra lagi

saya: wahh..kalau itu sih buka saja semua sel yang ada di dalam dirimu. di badanmu, di hatimu, di pikiranmu.

teman: (geleng-geleng. menolak atau menganggap salah saran saya ya?)

 

catatan:

teman saya adalah seorang pencari

saya? orang bodoh yang banyak kepingin tahu

sayang anak?

April 11, 2008 oleh yepe

TEMAN sepabrik abrik saya, lajang 36 tahun, jam duabelas malam teng menelepon. Suaranya, seperti biasa, tenang. Tapi saya bisa menangkap nada marahnya.
Teman saya bertemu dengan temannya dalam sebuah perjumpaan yang tak disengaja. Lama tak bertemu sementara waktu menunjukkan jam makan siang, keduanya sepakat mencari tempat enak untuk makan sambil ngobrol.
Entah bagaimana awalnya, pembicaraanpun sampai pada masalah yang membuat teman saya menelepon di jam tak wajar itu. Katanya, teman dia yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan itu menerima banyak titipan nomor dari rekan dan kerabatnya. Nomor itu adalah nomor tes masuk sekolah untuk tahun ajaran baru. Kata temannya teman saya itu, kebetulan anak-anak itu pintar hanya orangtuanya yang tak pe-de hingga perlu memastikan dengan menitipkan nomor itu. Baca entri selengkapnya »

belajar dari anak-anak

Maret 21, 2008 oleh yepe

Saya akhirnya datang juga ke pertemuan keluarga buruh pabrik. Tanpa perlu berdusta tapi juga tak perlu mengikuti arus. Saya datang sepenuh raga. Jiwa yang sempat tertinggal akhirnya hadir setelah membeli selembar karcis  Rp 10.000 yang bisa kudapat gratis seperti mereka.

Sayang saya datang sangat terlambat. Saya tak bisa ‘menikmati’ tawa mereka yang berpesta seperti saran seorang teman. Tapi saya bisa melihat bagaimana senyum mengembang di wajah bocah-bocah itu kala berkecipak dengan air. Senyum kebagahagiaan. Ah, malu saya melihat kepolosan mereka.

Malu karena saya sudah menyamaratakan semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang yang tak pantas bepesta. Anak-anak..apa yang mereka tahu tentan cara mendapatkan uang untuk membeli secontong es krim? Tak ada. Mereka hanya tau es krim itu manis dan dingin. Enak.

Halo anak-anak teman sepabrik, maafkan saya ya.

 

yang tak pernah pergi

Maret 14, 2008 oleh yepe
APA yang harus dilakukan saat pintu rumahmu diketuk dari luar? Membuka pintunya. Lalu, apa yang harus dilakukan jika sosok yang berada di balik pintu itu ternyata kekasih sejatimu? Dia datang tanpa membawa oleh-oleh bahkan setangkai bunga yang bisa dipetik di pinggir jalan sekalipun.
Aha tentu, tentu dia tak perlu membawa apapun. Karena dia cukup membawa jiwanya seutuhnya. Jiwa yang berpuluh bahkan mungkin berjuta waktu silam yang menerbangkanmu, membawamu mencecap manisnya kebenaran, membelaimu sedemikian rupa hingga meski sedikit, sedikit saja, kakimu tak lagi memijak bumi.
Beberapa hari lalu, kekasih sejati yang kebetulan juga cinta pertamaku (duh..) berkunjung. Aku tak ingat persis kapan ia mengetuk pintu lalu menyelusup masuk. Tapi pasti, aku telah membuka pintunya. Bukan cuma itu, aku ingat sekali ketika membiarkannya masuk lalu membebaskannya memilih di ruang mana ia mau duduk. Bahkan,  diam-diam, aku sedikit berbedak lalu mati-matian memilih hidangan apa yang akan kusajikan. Padahal, sang kekasih hati itu belum memintanya.
Sungguh, kunjungannya membahagiakanku.
Seperti itulah kehadiran satu teman baruku. Bukan, tentu belahan jiwa itu bukan dia jika yang dimaksud sosok ragawi.  Tetapi lebih pada pikiran-pikiran yang dituangkannya dalam deret panjang kata-kata pada beberapa hari terakhir ini. Deretan kata yang sering tajam menukik tak memberi ruang untuk sebuah maaf. Tentu saja aku menjadi betah berlama-lama menghabiskan malam untuk sekadar bertanya, bercerita, mendengar segala hal darinya. Idealisme, dalam segala hal, memang tak memungkinkan memberi kata maaf untuk sedikit saja kesalahan. Apapun alasannya. Termasuk alasan hati atau cinta atau semacamnya yang kadang hanya pemanjaan indra  semata.
Perjumpaan itu begitu mengasyikkannya. Aku menutup telinga agar tak ada suara lain yang menyusup ke gendang telingaku. Aku hanya mau mendengar apa-apa yang dari dirinya. Sekalipun kata yang keluar tak semuanya membuatku mengangguk menyetujui.
Duhai..betapa manis semuanya. Aku terlena dalam buai kebenaran. Aku pun tergoda untuk kembali menapaki jalan nan memikat itu. Hingga dia katakan, “ayo..cari airmu.” Ahh..aku tau disana tempatku. Udaraku. Aiirku. Tanahku.
Tempat itu adalah tempat segala kebenaran. Sesungguhnyalah tempat indah yang terang benderang dengan angin yang berhembus begitu sejuk karena rimbunnya dedaunan. Tempat dengan kasih sayang sebagai mata uangnya. Namun juga tempat yang sunyi. Jalan-jalan menuju tempat itu begitu sepinya karena hanya beberapa orang saja yang mau melewatinya. Itupun tak semua sampai ke tujuan.
Mereka yang tak sampai ke tempat itu atau meninggalkan jalan yang sudah ditempuhnya menuju tempat itu sebenarnya hanya orang-orang yang menggunakan kedua tangannya untuk menutup rapat telinga jiwa dari bisikan sanubarinya. Lalu kepalanya dipakai buat berjalan nelebihi kemampuan langkah kakinya. Semua itu semata untuk mencari jalan pembenaran atas penyumbatan telinganya tadi.
Aksi sirkus yang memuakkan itu banyak terjadi di tempat ini. Di tempat aku berpijak kini. Aku berada di antara pesirkus-pesirkus yang umumnya amatir hingga mudah kutebak permainannya bahkan kejatuhannya. Belajar langsung dari apa yang kutatap dan dengar tentu mudah buatku beraksi lebih baik dari mereka.
Tempat hiruk pikuk ini kuakui sering membuatku lelah. Juga marah alang kepalang. Kadang semakin menyakitkan ketika aku merasa benar-benar sendiri tak mampu menghentikan sejenak saja ajang kegilaan yang memperdengarkan semua jenis musik keras-keras secara bersamaan, menyajikan aneka hidangan dalam satu piring yang sama sekaligus mempertontonkan sirkus yang banyak melibatkan dirinya sendiri sebagai hewan akrobat.
Capek? Ya, aku capek melihat mereka. Sesekali bahkan begitu kecewanya hingga membuatku sedih. Karenanya, kekasih sejati, kunjunganmu begitu melenakan. Aku tergoda untuk kembali bersamamu seperti berpuluh, beratus bahkan berjuta waktu silam ketika jemari kita saling menggenggam.
Aku menjadi gundah. Gelisah berkepanjangan. Dalam pejam mataku hanya bayangan mencari airku yang setepat-tepatnya. Aku toh manusia yang selalu bisa memilih. Separo kakiku ingin kembali melangkah bersamamu menapaki jalan sepi menuju tempat indah yang menentramkan.
Namun, di satu sisi aku tau aku tak lagi bisa terbang. Aku telah membuat satu pilihan sadar dengan panglima terdepan sebuah cinta tanpa syarat yang kuterima sejak lahir. Kini, segala yang kujalani adalah konsekuensi logis atas pilihan itu.
Aku tak bisa lagi tidak menapakkan kedua telapak kakiku rata dengan tanah. Ya, ya, ya, sekalipun bukan tempat terindah bersamamu dulu.
Tapi hei, aku tau siapa diriku. Seperti sebuah iklan minuman, kutau yang kumau.
Yang kumau adalah kekasihku tetap bersamaku. Menemani setiap kali melangkah dan menarik nafas. Sekalipun aku ada di tempat yang hiruk pikuk dengan kebisingan luar biasa. Dalam arena sirkus tanpa batas yang mempertontonkan segala ketidakbenaran, ketidakharusan, keserakahan, kemunafikan dan kesombongan..aku tau aku tak sendiri. Ada kekasih sejati yang menemani sekalipun tak bisa kuraba ujud, kucecap rasa, kuhirup wangi dan kupandangi warnanya. Denganmu aku tak akan terjerembab.
Ya, kunjungan sang teman meyakinkanku. Bahwa kekasih sejati tak akan pernah pergi. Ia bertahta dalam sanubari. Jikapun terlupa, ia akan berbisik. Selalu. Selalu. Persinggahan temanku itu bagai memberiku seteguk air. Layaknya orang yang dipilihNya untuk menghindari keringnya jiwa.
Setelah hari-hari berbagi itu, saatnya bagi dia melanjutkan perjalanan. Ia pengembara yang tak akan meninggalkan jejak.
Maka, pergilah. Seperti keinginannya, tak akan ada air mata. Semuanya telah cukup buaku, juga buat dia. Karena, seperti cita-citanya, dia sudah memberi guna bagi orang lain: mengingatkan kekasih yang akan selalu bersemayam sekalipun tak beraga.

tanpa guna, tau!

Maret 12, 2008 oleh yepe

Ini sekedar contoh. Dua inti berita di bawah ini, apa persamaannya?

a. artis A pacaran dengan B yang ternyata sudah punya dua anak.

b. perempuan lajang tewas setelah melahirkan di kamar mandi rumah kontrakannya. 

Saya bilang sama-sama ndak ada gunanya!

Tapi berita-berita seperti itu yang laris manis. Padahal, apa yang bisa dipelajari dari berita begitu? Bahwa jangan pacaran dengan orang yang sudah berkeluarga? Jangan berpacaran berlebihan hingga hamil di luar nikah? Karena akibat dari keduanya bisa malu alang kepalang lantaran ada wartawan yang menulis lalu melaporkannya pada khalayak? Whadoooohhh..

Saya merasa sudah menjadi bagian dari komunitas tanpa guna. Duuhh..

Dua..

Oktober 22, 2007 oleh yepe

19 Oktober 2007

Tak ada balon warna-warni, apalagi lilin di angka dua yang harus ditiup.
Ibu dan ayahmu ini hanya bisa bersimpuh menebar melati, memasang mawar putih pada vas tanah di tempat pembaringanmu.
Lalu, rasa cinta itu terpanjat dalam doa. Serasa hangat senyummu menyapa, halus jemari mungilmu menggenggam, lembut kuusap rambutmu.
Lintang, ibu kangen, nak.

Teman saya patah hati

Agustus 28, 2007 oleh yepe

TEMAN saya patah hati. Saya bisa mendengar bagaimana getar pilunya sekalipun hanya lewat telepon yang saya terima dalam mikrolet M06 Gandaria-Kp Melayu berpenumpang lima orang di siang terik Sabtu kemarin. Teman saya bukan seorang yang cengeng, saya tau benar itu. Tapi yang namanya terluka tetap saja menimbulkan aduh.

Sedikit banyak, saya tahu perjalanan kasih mereka. Seorang gadis pandai yang dianugrahi wajah cantik hingga membuat siapapun yang berpapasan akan menoleh kembali untuk melihatnya, well organize, dari keluarga sangat amat berkecukupan secara finansial dan ingin hidup mapan. Namun dalam berasmara dengan sang pemuda yang juga berasal dari keluarga berpunya, cukup cerdas untuk berani hidup seperti yang ada dalam pikirannya shg terlihat sederhana ini, sang gadis agaknya kurang pe-de dengan apa yang dirasa ketika berkomitmen menjadi kekasihnya.

Banyaknya tanya seiring perjalanan kasih mereka berjawab bukan oleh rasa itu sendiri melainkan oleh hal-hal yang diterjemahkannya sebagai pembenaran atas berlanjut tidaknya pertalian kasih. Atas upayanya, saya melihatnya sebagai kekhawatiran masa depan. Padahal, hei..hei.., ini hidup yang garansinya ya ketidakpastian itu sendiri kan? Tapi ya sudah. Bisa jadi ia cuma sedang berhitung untuk meminimalisir kemungkinan2 terburuk yang bakal terjadi pada masa depan jika menjadi istri pemuda itu. Ya, ya, ndak ada salahnya memang. Buat saya, dari situ tergambar benar betapa rapinya dara ini mempersiapkan masa depannya termasuk masalah hati yang, dalam hal ini, biasanya mau menang sendiri. Lantas

samakah lagu hatinya dengan yang dinyanyikan sang pemuda? Mhh..meneketehe. Cuma dia yang tahu karena sang pemuda pun hanya bisa meraba bahwa kisah yang mereka rajut berat sebelah. Saya melihatnya sang dara jatuh cinta secara intelektual dengan pemuda itu. Tapi ini kan teropong saya saja. Bisa jadi benar tetapi besar kemungkinan salah.

Soal pemuda teman saya? Prens, saya tahu dia kecewa karena bulat hatinya tak mendapat imbangan sepadan. Patah yang dirasakan, saya pikir, lebih karena patahnya bulatan utuh itu. Patahnya sebuah rancangan indah tentang hari tua di sebuah kampung nan teduh. Bukan patahnya satu hubungan yang dia sadari memang tak pernah utuh. Perih yang membuatnya tak nyaman itu membuat saya kepingin mengelus-elus kepalanya menenangkan sekaligus memberi semangat. Saya juga katakan padanya supaya melihat mantannya yang mungkin sosok wanita bernilai 9 itu tak lebih sebagai orang2 yang ada di iklan2 di koran, majalah atau tipi. Sempurna hanya kelihatannya. Tapi bukan sempurna untuk menjadi orang yang kelak menjadi istrinya. Bisa jadi seseorang penghuni hati masa depannya kelak tak secantik, seanggun atau sepandai gadis itu tapi pasti dia bakal sempurna karena dilengkapi kasih yang menyeimbangkan bulat hatinya.

Prens, saya tahu bahwa teman saya tahu perih itu akan sembuh oleh waktu. Sepanjang proses itu, dia tahu kalau saya dan beberapa temannya akan berada bersamanya. Teman saya tahu, saya siap menjadi a shoulder to cry on kalau perih itu datang sebelum akhirnya minggat jauh2 dari hati teman saya.

Jadi, hei kamu teman saya, ndak usah menambah air garam di atas luka itu ya. Awas juga kamu membakar atau mendelete lagi tulisan2mu seperti yang kamu lakukan atas pemusnahan 400 halaman tulisanmu. Iya, awas! Karena itu karyamu. Kamu yang merangkai kata-kata lalu menyusunnya menjadi sebuah tulisan untuk sebuah buku. Bahwa gadis itu yang menjadi ispirasi ya biar saja, toh karya itu tetap hak paten olah otakmu. Cukup sekali itu saja berbuat bodoh ya. Masih mimpi mempersunting gadis itu? Ndak, ndak salah kok. Tapi saran saya, saat ini, akan lebih baik bagimu untuk membiarkan ruang yang ada di antara kalian. Kamu bisa menghidupkan waktu dengan kegiatan apa saja kecuali terus memikirkannya. Kalau dia memang sigaraning nyowo, rentang saat akan memberi jawab kok. Bagaimana, mau bangun pagi sambil teriak-teriak lagunya Cake? Yeah..yeahh u will survive..

Doa yang indah

Agustus 17, 2007 oleh yepe

1.JPG     TUHAN Yesus, berkati Mama Yuli yang hari ini ulang tahun..” Begitu doa yang keluar dari mulut kecil Aditya pada malam pertengahan Juli lalu. Mendengar doa bocah empat tahun itu, ayahnya memberi tepuk tangan sambil memuji kepintarannya. Begitu pula dengan sang bunda yang tengah mengandung  adiknya Aditya. Sedang pendoa berambut kriwil itu langsung rebahan lalu berguling-guling seperti biasa sebelum tidur.

Menurut ayahnya Adit, tak ada yang mengajarinya berdoa seperti itu. Begitu juga kata bundanya. Tapi sungguh, doa Adit itu adalah hadiah terindah yang saya dapat. Begitu indahnya hingga saya ndak bisa berkata apapun. Air mata bahagia yang akhirnya bicara.

Kami memang berbeda ‘rumah’ keimanan. Tapi keluarga kecil sahabat terbaik itu adalah keluarga saya juga. Di atas perbedaan itu, semoga hanya ketulusan yang ada.

Terima kasih doanya ya Mas Adit sayang.